Nikah muda ? Yah sebuah hal yang memang pernah terbesit dalam impian saya. Bahkan hingga saat ini pun masih tersimpan rapi impian itu. :) Tapi suatu pertanyaan terlintas dalam hati,
buat apa saya nikah muda ?
Apa karena teman-teman sebaya lain sudah menikah sehingga menaikan emosi saya ?
Atau karena saya meyakini dengan nikah muda maka Allah akan lebih mudah memberikan rezekinya ?
Saya masih ingat sekitar awal tahun 2013 kemarin, dengan niat bercanda mengatakan kepada ibu tentang keinginan menikah, tapi apa yang terjadi, ibu malah nangis karena takut masa depan anaknya akan lebih berat.
Dari obrolan yg cukup serius itu, akhirnya saya sadar, pernikahan bukanlah tentang usia dan bukan pula tentang kemapanan, buktinya banyak orang yg bisa bertahan bahkan sukses walaupun ia memulainya dari keterbatasan, yang saya sadari adalah pernikahan merupakan sebuah kepantasan. Sudah pantaskah kita memimpin rumah tangga ? Sudah pantaskah kita memikul tanggung jawab penuh terhadap anak orang lain ? Dan yang luar biasanya, penilaian kepantasan itu bukanlah penilaian dari orang lain, tapi penilaian dari diri kita sendiri. Kita akan menilai sendiri sejauh mana kita pantas melangkahkan kaki menuju jenjang pernikahan.
Banyak orang yang terburu-buru menikah akhirnya lupa terhadap esensi pernikahan itu sendiri, yang tak lain adalah ibadah. Tapi ada pula yang terlalu santai akhirnya ia melupakan pernikahan. Saya fikir, kita harus mulai proporsional terhadap pernikahan, buatlah target di umur berapa kita akan menikah, dan hingga umur itu tiba, pantaskan diri, jika permikahan adalah salah satu sarana peribadahan kepadaNya, maka perkuat hakikat pernikahan dengan lebih mendekat kepadaNya. Jangan terburu-buru memutuskan karena melihat teman-teman sebaya sudah menikah, ingat, pernikahan itu bukan arena balap, siapa yang cepat maka dia yang menang. Bukan! Yakinlah, kita punya tempat, waktu dan masanya sendiri yang lebih indah yang telah Allah siapkan. :)
#curcol.. Hehehe
Continue Reading...