Kamis

Apakah Tuhan Itu Ada ?


suatu saat,ketika sedang mencukur rambut'ny, seorang tukang cukur bertanya kepada laki-laki itu.
"pak, apakah bapak termasuk orang yg percaya akan adanya Tuhan ?"
"oh tentu saja. Tidak perlu diragukan lagi. Saya termasuk orang yg sangat yakin akan adanya Tuhan yang menciptakan manusia dan makhluk hidup lainnya," jawab si bapak dengan mantap.
"kalau saya kebalikannya, pak. Saya termasuk orang yg tidak percaya dengan kebaradaan Tuhan" sahut si tukang cukur.
"lho, mengapa kamu meragukan keberadaan Tuhan ? Apakah kamu pernah memiliki pengalaman pahit dengan Tuhan ?" tanya si pelanggan dengan penasaran.
 sebelum menjawab pertanyaan tersebut, si tukang cukur mengajak pelanggannya untuk menoleh keluar jendela tempat seorang pengemis kotor tengah mengais-ngais sisa makanan di bak penampungan sampah.
"coba bapak liat pengemis itu !" pinta si tukang cukur,"jika Tuhan memang benar-benar ada, mana mungkin Dia membiarkan pengemis miskin itu kelaparan. Lalu, dimana sifat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang itu ?"
 si bapak yg tengah di cukur itu agak sulit membantah penjelasan si tukang cukur yg sekilas tampaknya masuk akal. Dan, si tukang cukur tersenyum bangga dengan penuh kemenangan karena argumennya bisa mematahkan pelanggannya itu.

 setelah selesai memangkas rambut dan membayar ongkos-ongkosnya, si bapak bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu keluar tempat cukur itu. Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika dari balik pintu ia melihat seorang laki-laki yang tidak waras dengan wajah brewokan dan rambut gondrong tidak terurus. Ia pun cepat-cepat kembali menemui si tukang cukur.
"pak, ternyata saya baru tahu bahwa di dunia ini tidak ada tukang cukur," kata si bapak menyindir.
"baru saja saya mencukur rambut bapak, bagaimana mungkin Bapak mengatakan bahwa tukang cukur itu tidak ada," bantah si tukang cukur.
alih-alih menjawab, si bapak mengajak si tukang cukur kepintu untuk melihat orang gila yang masih berdiri disana."kalau tukang cukur itu ada, mengapa ada orang yg rambutnya tidak terurus seperti itu ?"si bapak balik bertanya.
"ha..ha...ha... bapak ini bisa saja. Itu bukan karena tukang cukur yang tidak ada, tetapi MEREKANYA YG TIDAK MAU DATANG DAN MINTRA TOLONG SAMA SAYA," ungkap si pemangkas rambut.
"kalau begitu, apa bedanya dengan pertanyaan anda ttg keberadaan Tuhan ?"-end-sahabat, jangan pernah ragukan keberadaan Tuhan, cukup syukuri apa yg sudah diberikan olehnya. karena apabila kita terus berdebat ttg keberadaan Tuhan, itu akan membuat kita semakin jauh dari Tuhan.:)keep grateful..:)
Continue Reading...

Senin

Bob Willen : Kisah Penyandang Cacat Yang Pantang Menyerah

Lomba marathon internasional 1986 di New York diikuti ribuan pelari dari seluruh dunia. Lomba ini berjarak 42 km. mengelilingi kota New York. Jutaan orang di seluruh dunia menyaksikan acara ini melalui televisi secara langsung.

Ada satu orang peserta yang menjadi pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu Bob Willen. Bob seorang veteran perang Vietnam. Ia kehilangan kedua kakinya karena terkena ranjau saat perang. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya kedepan.

Lomba pun dimulai. Ribuan orang mulai berlari secepat mungkin ke garis finish. Wajah mereka menunjukkan semangat yang kuat. Para penonton terus bertepuk tangan mendukung para pelari. 5 km telah berlalu. Beberapa peserta mulai kelelahan, mulai berjalan kaki. 10 km berlalu. Saat ini mulai nampak siapa yang mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang hanya sekedar ikut untuk iseng-2. Beberapa yang kelelahan memutuskan untuk berhenti dan naik ke bis panitia.
Sementara hampir seluruh peserta telah berada di kilometer ke-5 hingga ke-10, Bob Willen masih berada di urutan paling belakang, baru saja menyelesaikan kilometernya yang pertama. Bob berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak, menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan melempar-lemparkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangannya.
 Ayah Bob yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya berseru “Ayo Bob! Ayo Bob ! Berlarilah terus”.
 Karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari sejauh 10 km dalam satu hari. Di malam hari, Bob tidur di dalam sleeping bag yang telah disiapkan oleh panitia yang mengikutinya.
Empat hari telah berlalu, dan kini adalah hari kelima bagi Bob Willen. Tinggal dua kilometer lagi yang harus ditempuh. Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling. Kekuatannya mulai habis. Bob perlahan-2 bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak di sana tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan pernafasannya.
Sejenak Bob memejamkan mata dan di tengah-tengah gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak “Ayo Bob, bangkit ! Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun ! Jangan menyerah! Cepat bangkit !!!”
Perlahan Bob mulai membuka matanya kembali. Garis finish sudah dekat. Semangat membara lagi di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat- lompat ke depan. Dan satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis finish. Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat itu. Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon.
Di hadapan puluhan wartawan yang menemuinya, Bob berkata “SAYA BUKAN ORANG HEBAT. ANDA TAHU SAYA TDAK PUNYA KAKI LAGI. SAYA HANYA MENYELESAIKAN APA YANG TELAH SAYA MULAI. SAYA HANYA MENCAPAI APA YANG TELAH SAYA INGINKAN. KEBAHAGIAAN SAYA DAPATKAN ADALAH DARI PROSES UNTUK MENDAPATKANNYA. SELAMA LOMBA, FISIK SAYA MENURUN DRASTIS. TANGAN SAYA SUDAH HANCUR BERDARAH-DARAH. TAPI RASA SAKIT DI HATI SAYA TERJADI BUKAN KARENA LUKA ITU, TAPI KETIKA SAYA MEMALINGKAN WAJAH SAYA DARI GARIS FINISH. JADI SAYA KEMBALI FOKUS UNTUK MENATAP GOAL SAYA. SAYA RASA TIDAK ADA ORANG YANG AKAN GAGAL DALAM LARI MARATHON INI. TIDAK MASALAH ANDA AKAN MENCAPAINYA DALAM BERAPA LAMA, ASAL ANDA TERUS BERLARI. ANDA DISEBUT GAGAL BILA ANDA BERHENTI. JADI, JANGANLAH BERHENTI SEBELUM TUJUAN ANDA TELAH TERCAPAI”
Continue Reading...

Followers

Follow The Author