Sabtu

Sekolah, Bukanlah Tempat Orang Pintar!


Pernah saya ngedenger sebuah statment kaya gini,

“wahhh, kayanya jangan masuk sana deh, disana mah tempatnya orang-orang pintar..
otak kaya kita mah ga akan kesampaian”.
Bener ga sih statment itu ?
Nah insya Allah saya coba untuk berbagi dalam bentuk cerita sama sahabat-sahabat perihal sekolahnya orang-orang pintar.

Bissmillah.

Jadi gini ceritanya,,
Suatu hari ada seorang siswa yang sekolah di sekolah terkenal, hanya saja dia selalu mendapat nilai merah ketika ujian..
Karena udah sangat streessss, ia bertanya pada kakeknya yang bernama Abdul.

“kek, Aku selalu aja dapet nilai merah..=( apa aku ga berbakat yah sekolah disini ? mungkin ini tempatnya orang-orang pintar. Sedangkan aku ? huft.” Keluh siswa tersebut.

“waduhhh,, cucuku sedang putus asa yah..=) Coba kakek tanya, emang pelajaran apa yang dapet nilai merah ? “ jawab kakek dengan tenang.

“Matematika sama Kimia kek, sedangkan itu mata pelajaran penting di jurusanku. Hah aku pasrah ahhh..”

“ oh itu sih pelajaran andalan kakek waktu muda. Mau kamu kakek buat lulus di pelajaran itu ?” kata kakek dengan Pede.

“ oh iya ? wahhhh, kakek lumayan pinter juga nih kayanya.. boleh boleh kek. Gimana caranya ?” tanya siswa tersebut dengan antusias.

“ oh jelasss, siapa duluuu.. kakekk Abdulll..=D haha uhk uhk (ketawa kakek-kakek kan biasanya sambil batuk yah..=D)
nah sebelum kakek ajarin, kamu harus janji untuk nurutin semua perintah kakek. Siap ? =)”

“siap kek.”

“Berapa nilai kelulusannya ? dan coba sekarang kamu belajar kaya biasa.”

“70 kek.”
Akhirnya si siswa itu mengikuti perintah kakek.
Dan ketika ulangan..
nilainya kembali merah. Dia mendapat nilai 50.
“ kekkkkk, aku dapet nilai 50..=(“

“oh tenang, kan kakek belum ngajarin apa-apa, sekarang coba kamu belajar materi yang sama kaya ulangan itu.” Jawab kakek.

Tanpa banyak tanya, siswa itu kembali mempelajari materi ulangannya.
Setelah diadakan remedial, si siswa itu kembali mendapat nilai remedial. Dia mendapat nilai 60.

“kakekk..=( aku masih di remedial.”

“kan kakek belum selesai ngajarinnya, sekarang kamu coba belajar lagi materi yang sama kaya kemarin.”

Tanpa banyak tanya, si siswa itu kembali belajar lagi materi yang sama.


Keesokannya setelah selesai remedial.
“kakkkeeeeekkkkk. Remedial aku dapet nilai 75.=D”

“Alhamdulillah, cucu kakek udah jadi orang pintar.=)”

-end-

Siapa yang pernah ada dalam kisah di atas ? =)
Biar nyambung sama judul (=P) saya coba ambil benang merahnya yah..=)

Sahabat, sekolah itu bukanlah tempatnya orang pintar, percaya deh..
Tapi SEKOLAH ITU TEMPATNYA MENCETAK ORANG PINTAR.SEKOLAH ITU TEMPATNYA ORANG-ORANG YANG MAU BELAJAR.
Toh kalau misalkan kita udah pintar, buat apa sekolah ? kan udah pintar..=)
Hehe

Jadi kalau misalkan ada yang bilang, “ih naha jadi jelema teh bodo-bodo teuing.”
Sahabat-sahabat bisa jawab, “ iya, saya emang bodo, makanya saya sekolah.=)”
Pintar, lulus KKM itu tinggal masalah waktu. Semua tinggal segimana besarnya Ikhtiar, Doa, dan Tawakal kita.=)

PS buat siswa dan mahasiswa : jangan nyerah sama nilai merah kalian,  Dijalanan sana banyak orang-orang yang berharap bisa seperti kalian. Semangat. =)

barakallah.
Continue Reading...

Senin

Percayalah, 8 X 3 = 23 !

 
hmm, kali ini saya mau berbagi sebuah cerita yang baru saya dapetin dari salah satu sahabat saya.
semoga cerita ini bisa bermanfaat bagi sahabat-sahabat.=)
cekidot.^_^

suatu hari di sebuah desa ada seorang murid yang saaaaaaangatt pintar di bidang matematika, karena nama faforit saya Abdul, jadi kita sebut dia Abdul.
Dia adalah salah seorang murid dari guru terkenal di desa itu, yang bernama Asep.
hingga pada suatu hari, ketika ia sedang berjalan-jalan, ia memperhatikan percakapan seorang pedagang dan pembeli.

penjual, "hai saudagar, karena kau membeli 8 buah dan harga satuannya 3 dirham maka kau harus membayar 23 Dirham.

Pembeli,"oh iya baiklah". sambil menyodorkan 23 keping dirham.

Abdul yang melihat kejadian itu merasa heran dan menghampiri mereka berdua.
Abdul," Maaf, Anda salah hitung, 8 dikali 3 itu 24. bukan 23."

Penjual,"tidak! 8 dikali 3 itu 23, jadi dia cukup bayar 23 dirham."

Abdul," saya yakin anda salah hitung."

Penjual, " bagaimana kau bisa seyakin itu ?"

Abdul," Anda tidak tahu saya ? saya adalah murid dari Pa Asep. Guru matematika Tercerdas di desa ini!"

Penjual, " Oh ternyata anda muridnya.. Tapi saya tetap yakin jika 8 dikali 3 adalah 23."

Abdul," baiklah begini saja, kita ke Pak Asep. tapi kita bertaruh, jika jawaban saya salah, saya siap untuk tidak lagi dianggap muridnya dan dipermalukan di depan orang banyak, tapi jika kau salah apa yang siap kau berikan ?"

Penjual," oh baiklah, kalau saya salah, saya siap dipotong lehernya."

akhirnya kesepakatan itu disetujui, dan pergilah mereka ke Pa Asep, guru matematika tercerdas di desa itu.

Abdul, " pak tadi saya melihat penjual ini dan seorang pembeli melakukan transaksi, tapi menurut saya perhitungan penjual ini salah. dia mengatakan 8 dikali 3 itu 23. dan menurut saya 8 dikali 3 itu adalah 24. tetapi dia tidak percaya sama saya. Akhirnya kami sepakat untuk menemui bapak, dengan syarat jika saya yang salah saya siap berhenti jadi murid bapak, dan dipermalukan di depan umum. tetapi jika saya yang benar, dia siap untuk dipenggal kepalanya."

Guru," Abdul, bersiaplah kamu untuk tidak menjadi muridku lagi!"

karena Pak Asep adalah guru yang sangat dipercaya, tidak ada yang berani membantah ucapannya.
dan sesuai perjanjian, di berhentikan Abdul menjadi muridnya, dan dia akhirnya dipermalukan di depan orang banyak.

Suatu hari, ia kembali bertemu dengan Mantan Gurunya, pak Asep.
dia masih kebingungan, bagaimana mungkin dia salah.
akhirnya dengan berani, ia bertanya dimana kesalahannya.

"pak, saya sudah tidak lagi menjadi murid bapak, dan sayapun sudah dipermalukan di depan umum. tapi kalau saya boleh meminta ke bapak, tolong jelaskan kenapa 8 dikali 3 itu 23 ?" tanya Abdul dengan sangat penasaran.

"hai muridku, sesungguhnya jawabanmu tidaklah salah. jawabanmu tepat. 8 dikali 3 itu 24." jawab Guru.

"lantas, kenapa bapak waktu itu menganggap jawabanku salah ?" tanya Abdul penasaran.

" sekarang coba kau fikirikan, gimana jadinya jika bapak mengatakan jawabanmu benar ? maka akan ada 1 nyawa yang melayang bukan ? hai muridku, saat itu kau tidaklah belajar ilmu matematika, tapi kau belajar ilmu kehidupan. Ilmu eksak tidak akan pernah sebanding dengan mahalnya harga sebuah kehidupan. Bapak yakin tanpa bapak menjadi gurumu sekalipun, kau akan mampu melebihi ilmuku. tapi jika ada satu nyawa yang melayang karena sebuah perjudian yang konyol ? Bapak tidak akan pernah bisa memafkan diri bapak."

-end-
*maaf, nama penokohan cerita diatas tidak ada unsur sengaja.

Semoga tulisan ini bermanfaat sahabat,^^
barakallah.
Continue Reading...

Followers

Follow The Author