Senin

Ketika Mas Gagah Pergi

Oleh : Helvi Tyana Rosa

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat.Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"

"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!"

"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?

"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

"Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!

"Assalaamu’alaikum!"seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.

"Matiin kasetnya!"kataku sewot.

"Lho memangnya kenapa?"

"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.

"Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!"

"Bodo!"

"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar."

"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"

"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…"

"Pokoknya kedengaran!"

"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"

"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?"

"Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Gagah.

Oala.

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.

"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"

"Lain gimana Ma?"

"Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…"

Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."

Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan supir kami. "Untung aja masih lebih ganteng."

Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.

Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?"

"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"

"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"

Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?"

Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca!"

Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim."

Mas Gagah tersenyum.

"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…," kataku.

"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?"

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.

Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

"Mau kemana Gita?"

"Nonton sama temen-temen." Kataku sambil mengenakan sepatu."Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya."

"Ikut Mas aja yuk!"

"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!"

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

"Assalamualaikum!" terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

"Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?"tanyaku iseng.

Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."

Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!

"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

"Ikhwan?’ ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.

"Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.

"Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham."

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.

"Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Tika tiba-tiba.

"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…"

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin." Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.

"Mbak Ana?"

"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.

"Hidayah."

"Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!"

"Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!" tegurku ramah.

‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

"Dari rumah Tika, teman sekolah, "jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?"tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…

"Cuma lagi baca!"

"Buku apa?"

"Tumben kamu pingin tahu?"

"Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?"desakku.

"Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.

"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" itu.

"Maaas…"

"Apa Dik Manis?"

"Gita akhwat bukan sih?"

"Memangnya kenapa?"

"Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…" tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.

"Mas kok nangis?"

"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit."

Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…

"Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" Tanya Mas Gagah tiba-tiba.

"Gita capek marahan sama Mas Gagah!" ujarku sekenanya.

"Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"

"Tenang aja. Gita ngerti kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.

"Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
"Nyoba pakai jilbab. Git!" pinta Mas Gagah suatu ketika.
"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.

Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama."

Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.

"Gita mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.

"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.

"Ini hidayah, Gita." Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.

"Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.

"Lho! " Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Gagah-ku!"

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Gagah kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.

Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.

Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.

"Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.

"Mas Gagah belum pulang. "kata Mama.

"Yaaaaa, kemana sih, Ma??" keluhku.

"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…"

"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. "

"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini." Hibur Mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.

"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!" Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.

"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur Mama lagi.

Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

"Nginap barangkali, Ma." Duga Papa.

Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa."

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.

"Kriiiinggg!" telpon berdering.

Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"

"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.

"Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…" suara Papa lemah.

"Mas Gagaaaaahhhh" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.

" Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku. "Sabar sayang, sabar."

Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?" Air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.

"Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…" bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga."

Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi.."

"Gita…" suaraku serak menahan tangis.

Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.

"Mas…ini Gita Mas.." sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

"Dzikir…Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.

"Gi..ta…"
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.

"Gita di sini, Mas…"
Perlahan kelopak matanya terbuka.

"Aku tersenyum."Gita…udah pakai…jilbab…" kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.

"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…" ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

"Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.

Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.


Epilog:

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.

Setitik air mataku jatuh lagi.

"Mas, Gita akhwat bukan sih?"

"Ya, insya Allah akhwat!"

"Yang bener?"

"Iya, dik manis!"

"Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!"

"Kok nanya gitu sih?"

"Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?"

"Ganteng kan?"

"Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?" Jihad itu apa sih?"

"Ya always dong, jihad itu…"

Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!

Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!
Continue Reading...

Minggu

Arti Sebuah Perjalanan

Gn.Cikuray - Garut
"Izinkan aku menjadi bodoh jika sebuah perjalanan adalah kebodohan" - Muhammad Fitrah

katamu,
Berjalan itu melelahkan,
Berjalan itu tidak berguna.
Tapi..
Bukankah menunggu pun demikian? Melelahkan?
Dan apakah benar di dunia ini ada yang tidak berguna? Atau hanya aku yang terlalu bodoh untuk memahaminya?

Bagiku berjalan itu bukan tentang seberapa banyak tetesan keringat yang kita keluarkan, tapi tentang seberapa banyak hal yang kita bisa pelajari darinya.
Bukankah darinya kita akan mengetahui jika disudut dunia ini masih ada hal-hal yang belum tersentuh oleh kita?
Bukankah darinya kita akan semakin menyadari betapa kecilnya kita dibandingkan bumi yang sedang kita pijak ini?
Dan...
Bukankah kita akan mendapatkan pengalaman yang tidak akan pernah bisa terbayarkan oleh uang?

Sudahlah.. Seberapa banyak pun hal yang kujelaskan, mungkin tidak akan pernah bisa membuatmu mengerti.
benar, aku yang terlalu bodoh untuk menjelaskannya padamu.
Tapi tak mengapa, aku sudah cukup senang dengan kebodohanku ini.

Jika aku boleh berpesan padamu,
pesanku hanya satu,
Cobalah berjalan, nikmati setiap langkah yang mengantarkanmu menemui hal-hal yang baru. Disana mungkin kamu akan mendapatkan arti sebuah perjalanan yang tidak bisa kuucapkan saat ini.
Continue Reading...

Sabtu

Pernikahan Bukan Arena Balap

Nikah muda ? Yah sebuah hal yang memang pernah terbesit dalam impian saya. Bahkan hingga saat ini pun masih tersimpan rapi impian itu. :) Tapi suatu pertanyaan terlintas dalam hati,
buat apa saya nikah muda ?
Apa karena teman-teman sebaya lain sudah menikah sehingga menaikan emosi saya ?
Atau karena saya meyakini dengan nikah muda maka Allah akan lebih mudah memberikan rezekinya ?

Saya masih ingat sekitar awal tahun 2013 kemarin, dengan niat bercanda mengatakan kepada ibu tentang keinginan menikah, tapi apa yang terjadi, ibu malah nangis karena takut masa depan anaknya akan lebih berat. Dari obrolan yg cukup serius itu, akhirnya saya sadar, pernikahan bukanlah tentang usia dan bukan pula tentang kemapanan, buktinya banyak orang yg bisa bertahan bahkan sukses walaupun ia memulainya dari keterbatasan, yang  saya sadari adalah pernikahan merupakan sebuah kepantasan. Sudah pantaskah kita memimpin rumah tangga ? Sudah pantaskah kita memikul tanggung jawab penuh terhadap anak orang lain ? Dan yang luar biasanya, penilaian kepantasan itu bukanlah penilaian dari orang lain, tapi penilaian dari diri kita sendiri. Kita akan menilai sendiri sejauh mana kita pantas melangkahkan kaki menuju jenjang pernikahan.

Banyak orang yang terburu-buru menikah akhirnya lupa terhadap esensi pernikahan itu sendiri, yang tak lain adalah ibadah. Tapi ada pula yang terlalu santai akhirnya ia melupakan pernikahan. Saya fikir, kita harus mulai proporsional terhadap pernikahan, buatlah target di umur berapa kita akan menikah, dan hingga umur itu tiba, pantaskan diri, jika permikahan adalah salah satu sarana peribadahan kepadaNya, maka perkuat hakikat pernikahan dengan lebih mendekat kepadaNya. Jangan terburu-buru memutuskan karena melihat teman-teman sebaya sudah menikah, ingat, pernikahan itu bukan arena balap, siapa yang cepat maka dia yang menang. Bukan! Yakinlah, kita punya tempat, waktu dan masanya sendiri yang lebih indah yang telah Allah siapkan. :)

#curcol.. Hehehe
Continue Reading...

PESONA RUMAH DUNIA (Jilid 2)

Fotografer : Yori Tanaka

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
 dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu,
 Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
-Sapardi Djoko Damono-

Hari kedua telah dimulai, kusambut ia dalam rapalan doa subuh di sebuah masjid. Begitu tenang, begitu khusyuk. Angin subuh seakan-akan begitu bersahabat dengan tubuhku, entahlah mungkin karena angin disini tidak sedingin angin subuh di kampung halaman rumahku, Bandung.

Pagi hari, saya menghabiskan dengan sebuah diskusi kecil di kamar tempat saya berteduh. Bersama 3 orang sahabat baru, Kang Fathan, Kang Asep, dan Kang Suhadi kami saling berbagi cerita, berbagi pengalaman, dan berbagi tawa. Yah, pagi yang begitu hangat sebelum kami semua peserta menjalani kegiatan Rumah Dunia hari ini.

Pukul 8.30 pagi kami memasuki sebuah aula untuk kembali menangkap ilmu-ilmu yang dilayangkan pemateri, dilayangkan sang master. Kali ini, Profesor Yus Rusyana dan Rohendi SPd yang terpilih sebagai pemateri di diskusi pertama. Kagum saya melihat kedua pemateri ini, wawasan mereka begitu luas, apalagi ketika saya memperhatikan Prof Yus membagikan ilmunya, semangat yang luar biasa dikeluarkan oleh lelaki yang telah berumur 75 tahun ini. Iri saya pada beliau, dengan umurnya yang sudah tua renta, beliau masih begitu bersemangat membagikan ilmunya, kami saja para peserta yang berkisar di umur 16-30 tahun belum tentu bisa seenergik beliau. Terima kasih Prof untuk segala ilmunya. J

Lanjut siang dan dan sore harinya, kami diajak berdiskusi bersama Mba Oka Rusmini dan para penerbit-penerbit buku. Siang itu, Mbak Oka Rusmini mengajarkan kami tentang sebuah perjuangan untuk melestarikan sebuah budaya melalui literasi, sebagaimana yang telah ia contohkan, memperjuangkan kebudayaan Bali melalui karya-karyanya. Lain pemateri lain cerita, ketika berdiskusi bersama para penerbit, kami dikasih wawasan tentang berbagai macam langkah untuk menerbitkan buku dan buku-buku seperti apa yang sedang laris dipasaran. Sepintas, terbayangkan buku-buku yang suatu saat nanti kami garap bisa bersanding dengan buku-buku best seller lainnya di seluruh toko-toko buku Indonesia.

Hari kedua terasa begitu cepat berlalu, matahari pun perlahan mulai meninggalkan kami, membiarkan bulan perlahan naik menggantikannya. Banyak ilmu yang telah saya dapat hari ini, banyak hal yang saya pelajari, dan ikatan kami sesama peserta pun semakin erat. Saat itu, waktu menunjukkan waktu Maghrib, kami dibiarkan beristirahat dan akan kembali berkumpul jam 7 malam selepas sholat isya. Ketika berkumpul kembali, saya melihat 2 pemateri telah siap di panggung Aula. Yang satu tengah memainkan gitar, yang satu asik bernyanyi. Saya coba membuka catatan rundown acara yang telah diberikan panitia, ternyata kali ini saya akan dipertontonkan musikalisasi puisi. Sebuah pertunjukkan baru bagi saya pribadi. Saat itu, dengan santun, pemateri memperkenalkan diri, beliau bernama Mas Ari dan Mbak Reda dan tak lama kemudian, mas Ari memetikkan gitarnya, disambut suara Mbak Reda. Ahhhh, suaranya begitu merdu, alunan gitarnya begitu mesra, ditambah suasana aula dengan lampu yang sengaja dimatikan dan hanya menyisakkan 3 buah sorot lampu yang mengarah kepada Mbak Reda dan Mas Ari, membuat saya benar-benar hanyut dalam musikalisasinya. Kekaguman saya semakin memuncak ketika beliau menyanyikan sebuah puisi berjudul Aku Ingin karya Sapardi Djoko, sebuah puisi yang sudah saya tahu betul liriknya. Tanpa sadar, sayapun ikut menyanyikannya dari bangku penonton.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu, 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Musikalisasi yang mereka lantukan benar-benar telah menghipnotis saya dan mungkin juga seluruh peserta yang hadir pada malam itu, karena tanpa sadar, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 malam yang artinya sudah lebih 30 menit dari rundown seharusnya. Acara musikalisasi puisi harus disudahi saat itu juga.

*****

Hari ketiga sekaligus hari terakhir petualangan saya di Banten segera dimulai, kali ini kami seluruh peserta akan berjalan menyisiri Banten hilir atau yang lebih dikenal dengan Banten lama, satu hari ini akan kami habiskan untuk lebih jauh mengenal sejarah Banten. Mas Halim HD yang terpilih untuk membeberkan segala ilmu sejarahnya. Dari diskusi ini, kami sepakat, Banten bukanlah hanya sebuah kota yang berada di pinggir kawasan industri, tapi Banten lebih dari itu. Banten memiliki sejarah dan kekayaan yang luar biasa, menjadi salah satu jalur perdagangan Internasional pada eranya dulu. Yah, itu dulu. Kini Semua itu tinggal sejarah. Merekalah yang paham dan mau mempelajari sejarah Banten yang akhirnya akan menyimpan kebanggaan itu. Saya masih ingat ketika Mas Halim mengeluarkan beberapa statement didalam diskusi ini. Kurang lebih seperti ini,


“Saya tidak ingin mengajak anda membicarakan masa lampau,
tapi saya ingin anda mengingat hal-hal kecil.
Karena dari hal kecil itulah kita bisa tahu seberapa pentingnya sebuah sejarah”

“Melacak bukan hanya pekerjaan yang dilakukan anjing polisi, tapi untuk menggali sebuah sejarah,
anda perlu melacak, lacaklah sejauh yang anda bisa”

“Seorang penulis begitu erat kaitannya dengan membaca,
bacalah yang bisa anda baca, bacalah buku dan kehidupan yang saat ini anda jalan,
karena itu akan menjadi sebuah budaya”

Selepas diskusi bersama mas Halim, kami menghabiskan waktu bersantap siang di Eco Village, menyantap sedapnya Bandeng lumpur, membahas buku antalogi puisi dan antologi cerpen yang baru saja diterbitkan, membahas tentang bambu, dan akhirnya kembali ke Rumah Dunia untuk persiapan penutupan sekaligus packing untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.

Jika saya berbicara tentang Banten, saya fikir ini sebuah kota yang luar biasa kaya. Kaya akan budayanya, kaya akan masyarakatnya yang begitu bersahabat. Perjalanan 3 hari yang saya rasa terlalu singkat untuk disudahi, yah jika bukan karena rutinitas dan janji yang sudah menanti di Bandung, mungkin saya ingin merasakan sedikit lebih lama kehangatan kota Banten. Merasakan kebersamaan bersama sahabat-sahabat yang baru saya kenal. Tapi inilah hakekatnya sebuah perjalanan, akan selalu ada perpisahan. Bukan berarti pergi karena tidak ingin bersama, tapi karena di luar sana masih banyak cerita dan ilmu yang harus dijumpai, hingga suatu saat ketika bertemu kembali, kita mempunyai ilmu dan pengalaman baru yang bisa di ceritakan. Sampai jumpa kembali Banten, Sampai jumpa kembali sahabat dan terima kasih  Rumah Dunia yang bekerjasama dengan Direktorat Sejarah dan nilai budaya Direktorat jenderal kebudayaan kementerian pendidikan dan kebudayaan RI akan segala pesona yang telah kalian tularkan.

Continue Reading...

PESONA RUMAH DUNIA (Jilid 1)


Sejatinya sebuah perjalanan selalu ada cerita,
selalu ada ilmu,
dan selalu ada teman yang akan membagikan canda tawanya.
Hingga kita tersadar, bahwa kita tidak pernah ada dalam kesendirian
Muhammad Fitrah – Bandung


Cerita ini berawal dari sebuah info di facebook, salah seorang rekan kerja saya dulu sekaligus pelanggan setia bisnis yang saya jalani menginfokkan bahwa ada sebuah kegiatan di serang, Banten. Beliau bernama Intan kuswoharti, atau yang biasa saya panggil Teh Intan.

Kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari di Rumah Dunia, Serang. Karena jiwa petualang saya sedang tinggi-tingginya pada saat itu (#asikk :P), jadi tanpa fikir panjang, saya memutuskan untuk ikut. Dan saat itu teh Intan mengatakan, “ Kalau mau ikut, cepetan daftar kang!! Soalnya cuma nerima 100 peserta! Jadi belum tentu bisa ikut kalau ternyata udah penuh quotanya”. Mendengar berita tersebut, membuat saya secepat kilat mengkontak nomor yang diberikan oleh teh Intan. Sebuah kebahagiaan ketika seseorang dari seberang telepon sana merespon sms pendaftaran yang saya kirim, beliau mengatakan. “Bisa ikut full acara kan ? Nama FB kaka apa ? nanti saya add terus nanti saya masukin ke obrolan di FB.” Yess, Respon Positif. :D :D :D

Saya mengetahui nama yang merespon pendaftaran saya ketika beliau sudah meng-add dan memasukkan saya kedalam sebuah obrolan berjudul “Rumah Budaya Nusantara”, beliau bernama Annisa Sofya Wardah. Hari-hari berlalu, tidak ada kabar tentang kegiatan. Entah nama saya sudah terdaftar atau belum, saya pun tidak tahu. Karena saya sedikit cemas, akhirnya saya kontak beliau untuk menanyakan kepastiannya. Beberapa saat kemudian, SMS balasan masuk ke hp saya, sms itu berbunyi,

“Maaf mas, quota sudah penuh.”

“Arggggghhhh, masa gagal gue berpetualang!!??” umpat saya dalam hati.

Karena tekad saya sudah bulat untuk melakukan sebuah petualangan, akhirnya otak saya berpacu seribu kali lebih cepat dari biasanya #lebay, saya berfikir bagaimana agar saya tetap berangkat ? Treneneng!! Sebuah ide muncul!! Saya ga boleh nyerah, saya harus gunakan jurus “2M”, yaitu MEMELAS dan MEMAKSA. Hahaha

Singkat cerita, akhirnya sayapun berhasil ikut, bukan karena jurus 2M saya ampuh..:P tapi karena ketika mendekati hari H banyak yang meng-cancel hadir. Yess, rezeki emang ga kemana. :D :D #JogedJoged

(Kalau tau acaranya serame kemarin, yakin dahh pada nyesel ga ikut. :p)

#Makasih teh Anis yang udah ngasih kesempatan sampai saya bisa ikut.

Kamis siang, tanggal 7 November 2013, dengan membusungkan dada dan langkah yang pasti, saya tinggalkan kota Bandung untuk sesaat. Saat itu, cilegon menjadi tujuan saya sebelum menginjakkan kaki di Rumah Dunia, Serang. Satu malam akan saya habiskan disana, untuk mengunjungi sahabat yang telah lama tak jumpa, untuk bernostalgia akan indahnya masa putih abu, dan berbagi cerita tentang kehidupan yang dijalani saat ini. Sahabat itu bernama Agus.
Keesokan paginya, setelah puas bernostalgia bersama agus, saya beranjak menuju tujuan utama perjalan saya, Rumah Dunia yang berada di desa Ciloang, Serang. Setibanya disana, kesan pertama kali ketika kaki saya memasuki desa ciloang adalah “Cozy, nyaman. Ini sebuah desa yang tenang, betah saya disini.”

Di lapangan depan Rumah Dunia sendiri sudah terlihat para peserta dan panitia hilir mudik. Ada pula para peserta seperti saya yang baru tiba, mereka memperlihatkan wajah yang antusias ketika melihat sebuah spanduk bergambarkan susunan acara. Yah wajar saja, karena di acara ini kami semua peserta akan bertemu dengan para “master”. Sebut saja seperti Kang Abik dan Kang Kholidil Asadil Alam atau yang lebih akrab dikenal dengan kang Azam KCB, belum lagi kita akan berdiskusi bersama kang Irfan hidayatullah, kemudian mendengarkan musikalisasi dari Mas Ari dan Mbak Reda, dan masih banyak lagi diskusi-diskusi bersama pakar-pakar lainnya.

Kegiatan dimulai. Sebuah pembukaan diawali dengan sambutan-sambutan dari pihak penyelenggara hingga menyuguhkan Drama dari teman-teman Rumah Dunia. Drama tersebut membuat kami terpesona, tak terkecuali saya. Saat itu, 2 orang yang menjadi sorotan saya, perempuan yang berperan sebagai emak dan seorang anak kecil yang menjadi penari dalam drama. Yah, perhatian saya teralihkan ke mereka karena acting mereka begitu mencolok dari yang lain, mereka terlihat sangat menghayati perannya. Saya menyimpulkan, mereka semua berbakat. #Great

Siang harinya, kami menghabiskan waktu untuk berdiskusi bersama kang Irfan Hidayutullah dan Mas Imran. Diskusi yang berbobot. Dari diskusi itu, satu hal yang paling tidak bisa saya lupakan, yaitu kesimpulan yang mereka katakan,
“ Ribuan kata dapat kita produksi dalam satu hari,
tapi sedikit orang yang meluangkan waktunyauntuk memaknai setiap kata yang diproduksi.”

Kata-kata itu menjadi sebuah tamparan bagi saya pribadi, banyak kata yang saya produksi, tapi sebanyak itupula saya tidak pernah mencoba memaknai kata-kata yang terlontar. Hingga akhirnya, banyak kata yang berujung pada sebuah kesia-siaan. #perenungan

Ilmu hari ini, kebahagiaan hari ini belum berakhir. Karena sore harinya, kami berdiskusi tentang peran sastra dan film islami bersama Kang Abik dan Kang Azam. Sebuah diskusi panjang yang mampu membuat mata peserta tidak berkedip. Yah, sebuah diskusi yang menarik, Sangking manariknya, diskusi yang seharusnya selesai hingga maghrib masih berlanjut hingga menjelang Isya. Dari diskusi inipun saya belajar dan saya menemukan makna yang kurang lebih seperti ini : kang Abik mengatakan,


“Bermimpilah, mulailah segalanya dari mimpi.
Karena Rosulullah pun mengajarkan demikan.
Penaklukkan kontsatinopel menjadi buktinya.
Yah, Rosulullah menjanjikan kemenangan yang belum ada pada saat itu.
Itu karena Rosulullah ingin sahabat-sahabatnya meyakini sebuah kekuatan yang melebihi apapun,
kekuatan yang mampu mewujudkan sebuah mimpi.
Kekuatan itu adalah... Kekuasaan Allah”

Selepas diskusi bersama kang Abik dan Kang Azam, panitia menyuguhkan sebuah acara pentas kebudayaan. Melihat ragam budaya Banten, membuat saya takjub luar biasa. dibalik berita miring tentang pemerintahan Banten, ternyata di sisi lain sedang ada yang belajar dan mengajarkan budaya Banten, dan itu bukan satu dua orang yang terlibat, tetapi hingga puluhan bahkan ratusan orang. #Salut

Malam semakin larut, pertunjukkan budaya telah usai, tapi entah kenapa sayang jika hari ini disudahi begitu saja. Masih banyak yang ingin kami perbincangkan dan bagikan. Rasa itu akhirnya membuat kami sebagian peserta sepakat untuk melanjutkan malam lebih lama lagi, untuk bermain dengan gelapnya malam kota Banten. ( kenangan malam pertama di Banten ditulis dalam catatan yang berbeda )


-Bersambung-


Continue Reading...

Selasa

Cahaya Abadi Sebesi - Perjalanan Menuju Puncak Anak Krakatau

"Karena Hidup bukan untuk dihabiskan di satu titik dalam peta. Pergilah, buatlah garis dalam peta kehidupanmu dan lihatlah berbagai macam ciptaanNya.”

Sepakat ketika banyak orang bilang, "Menulislah, apapun! Jika tulisan itutidak bermanfaat untuk saat ini, yakinlah tulisan itu akan bermanfaat suatu saat nanti. Dan jika bukan bermanfaat untuk dirimu, yakini jugalah bahwa tulisan itu akan bermanfaat buat orang lain."

Hari itu, saya kembali membuka catatan-catatan lama (buku primbon, haha), taksengaja saya menemukan quotes diatas. Quotes ketika saya mulai melakukan sebuah perantauan untuk pertama kalinya. Tentu saja, ketika sayamembaca tulisan itu, semangat traveling saya yang terlihat mulai berdebu kembali lahir. Yup..Kemarin tanggal 18 Oktober, akhirnya saya kembali melangkahkan kaki saya untuk mencoba belajar, melihat dan mengenal salah satu sudut di bumi ini.Setelah sekian lama saya tidak melakukan sebuah perjalanan panjang, akhirnyaAnak Gunung krakatau berserta kronco-kronconya berhasil membayar rasahaus saya. Bersama salah satu komunitas yang menamakan dirinya BackpackerKoprol, saya memulai perjalanan saya.

Jumat, 18 Oktober, Sepulang kerja, saya langsung 'berlari' menuju terminal Leuwi Panjang, mengejar sebuah Bus Jurusan Bandung-Merak. Ngarepnya sih dapet bus berlabel ARIMBI,hahh, tapi sayang bukan arimbi yang menemani perjalan saya ke merak. Tapi gpp,yang penting sampai! :D Dalam perjalan menggunakan bus, selain sesi tidur, ada satu sesi yang selalu saya nikmatin, yaitu sesi berkenalan dengan soulmate sebangku. (ciee). Entah nasib atau apa, tapi selama saya hidup dan melakukan sebuah perjalanan menggunakan bus, tidak pernah ada lawan jenis yang mau duduk disamping saya. Selalu saja para pria yang menemani. haaahhh. Padahal tampang saya ga menyeramkan, jelek pun tidak (kata saya, wkakakak). Yasudahlah, saya terima nasib ini dengan tangan terbuka. Kali ini, pria matang yang sudah berkeluarga yang menjadi soulmate saya. Beliau bernama mas Ucu, berperawakkan cukup kurus tetapi tinggi dan terbilang berkulit putih untuk ukuran orang indonesia. kami ngobrol panjang lebar, mulai dari rutinitas kegiatan saat ini, hinngga mimpi-mimpi kami masing-masing. Di usianya yang terbilang masih muda 33 tahun, saya belajar banyakdari beliau. Tentang sulitnya kehidupan hingga manisnya berkeluarga. Semoga Allah memanjangkan umur kita untuk bertemu kembali suatu saat nanti yah masUcu. :)

Hampir 6 jam saya melakukan perjalanan dari Bandung menuju Pelabuhan Merak, tidak terlalu terasa karena saya menghabiskan separuh waktunya dengan membaca dan tidur (bukan kebluk, tapicerdas yah, hahaha). Sesampainya di merak, saya berkenalan dengan seluruh Anggota Backpacker Koprol yang telah menanti.Sebenernya untuk beberapa anggota Backpacker Koprol, saya sudah terlebih dahulu berkenalan sebelum tiba di merak, karena saya bertemu di dalam bus ketika busBandung-Merak yang saya tumpangi tiba di daerah jakarta. di pelabuhan Merak, 13 Personil terkumpul untuk melakukan ekspedisi ke Anak Gn.Krakatau. -Bang Alvie, Bang Yedi, BangHaris, Bang Fandi, Bang Indra, Bang Roni, Bang Irvan, Bang Rangga, Mba Dindi, MbaLia, Mba Vita, dan Mba Naya-

Berbicara tentang krakatau, tentu ini menjadi sebuah pengalaman pertama saya mengarungi sebuah perjalanan lintas pulau. Mengingat saya tinggal diPulau Jawa, dan Krakatau di daerah Lampung -Sumatra-. Yah yah yah, bisa jadi itu semua yang membuat saya begitu bersemangat ketika menaiki kapal Feri,Dek- demi Dek saya jelajah, hingga tiba di dek paling atas, dek dimana saya bertatapan langsung dengan langit malam, saat itu dalam hati terbesit kata,"Oh gini toh rasanya naik kapal besar, mungkin ini yang dirasakan Leonardo d'Caprio dalam film Titanic yah" #Wakakakak

Jam 3 Subuh kami tiba di pelabuhan bakauheni, kami langsung melanjutkan perjalan menuju Dermaga Canti, Dermaga yang nantinya ada sebuah perahu yang telah disewa untuk menjadi kendaraan pribadi kami selama berkespedisi. Sekitar jam 5 pagi kami sampai di dermaga Canti. Setelah melakukan shalat subuh, sarapan dan berfoto ria, kami akhirnya melanjutkan perjalanan pukul 06.00 pagi menuju tempat singgah kami, pulau Sebesi.

Sebelum singgah di Pulau Sebesi, kami menyapa 2 buah pulau terlebih dahulu,Sebuku kecil dan Sebuku Besar. Tempat dimana menjadi area pertama untuk bermain snorkeling. Di pulau Sebuku kecil ini pulalah saya dan rekan2 mendapatkan sambutan selamat datang dari para penghuninya, UBUR-UBUR. Yah, kami semua "diciumubur-ubur". Dari kami 13 orang, yang paling disukai ubur-ubur itu saya fikir BangHaris. Bagaimana tidak, sekujur tubuh bang Haris, bahkan hingga daerah muka terkena sengatan Ubur-ubur kecil. :v

2 Pulau ini menunjukan hartanya,walaupun beberapa terumbu karangnya terlihat carang, tapi kehidupan bawah lautnya cukup mempesona kami. Sepuasnya bermain snorkeling di 2 pulau ini, kami langsung menancapkan gas menuju pulau Sebesi.

Pulau Sebesi, pulau yang sangat tenang dan tepat untuk beristirahat dari kepenatan rutinitas yang ada. Saat ini, di pulau Sebesi masih menggunakan jenset sebagai alat penerangnya. Dengan alat tersebut, membuat pulau yang berpenghuni 500-1000 orang ini, harus merasakan nikmatnya cahaya listrik secara bergantian.Kami sendiri mendapat jatah energi listrik mulai jam 6 sore hingga jam 12 malam (walaupun waktu itu sampai jam 3 pagi masih mendapatkan listrik). Yah, walaupun sengsara karena tidak cukup listrik untuk mencharge HP saya, tapi ini termasukbagian kenangan yang saya ingat dari perjalan saat itu.

Setelah shalat dan beristirahat, kami kembali melakukan perjalanan untuk bermain snorkeling dan mengejar sunset, (aduh saya lupa nama pulau tempat snorkeling, ingetnya Pulang Umang-umang tempat ngambil foto sunset. TT)

Sepulang dari pulau Umang-umang,kami semua kembali ke basecamp penginapan. Mempersiapkan diri untuk menikmati dinner malam. Dibalik redupnya cahaya dan gelapnya malam, kami menggelar tikar di tengah bangunan dengan pemandangan laut. Disesi ini kami habiskan untuksaling mengenal satu sama lain, bercerita tentang pengalaman perjalanannyamasing-masing. Hingga jam 8 malam kami bercengkrama untuk mengenal satu samalain. Saat itu, langit malam Pulau Sebesi menjadi saksi bisu sebelum kami melakukan sebuah ekspedisi sebenarnya. Pendakian menuju puncak Anak GunungKrakatau dan perjalanan untuk menjumpai cahaya Abadi Pulau Sebesi yang sebenarnya.
  • Jam 4 Subuh kapal sewaan kami berlayar dari dermaga Pulau Sebesi menuju Gunung Anak Krakatau. Kliatan petir di langit saat itu seakan-akan mengantarkan kepergian kami dari dermaga. Ombak dermaga masih cukup tenang, membuat sebagian dari kami yang belum berpengalaman merasa aman. 30 menit sudah perjalanan berlalu, ombak dini hari semakin menunjukkan keperkasaannya. 1 orang dari kami mulai mual, dikuti oleh 2 hingga 4 orang berikutnya. Yah! 5 orang dari kami saat itu mengalami mabok laut. Sebagian lagi dari kami sudah terlelap karena obat ANTIMO yang telah diminum sebelumnya. Saat itu, perjalanan masih harus menempuh 1 jam 30 menit untuk sampai di daratan Pulau Gunung Krakatau. Di dalam kapal dan di tengah-tengah lautan, sebagian dari kami hanya bisa berharap "Semoga cepat sampai."
  • jam 05.30 kami tiba di daratan Pulau Anak Krakatau. Nafas lega keluar dari kami semua. Daratan pasir hitam menyambut kami, ditambah aroma belerang yang cukup kuat. Setelah asik berfoto-foto dibawah, kami memulai pendakian kami. 30-45 menit kami berhasil mencapai puncak Anak Krakatau. Pemandangan yang sangat indah di puncak membayar segala lelah perjalanan kami.
  • Jam 08.00 Kami meninggalkan Pulau Gunung Anak Krakatau, kali ini perjalanan kami lanjutkan menuju Legon Cabe, menurut nahkoda kapal, tempat inilah yang paling bagus untuk bermain Snorkeling.
  • sekitar 30 menit perjalanan dari Anak Krakatau, kami semua sudah tiba di Legon Cabe, sebuah tempat yang ternyata memang benar akan keindahan bawah Lautnya. Banyak sekali ikan-ikan yang hidup disini, terumbu Karang yang tumbuh disini pun menambah nilai plus keindahannya.
  • Setelah bermain snorkeling di pulau Sebesi, kami kembali menuju basecamp. Mempersiapan diri untuk melihat Cahaya Sebesi yang sebenarnya.
  • jam 13.00 Kami berjalan lebih dalam di pulau Sebesi, konon katanya, walaupun cahaya listrik harus dinikmati secara bergantian, tapi di pulau Sebesi telah lahir sebuah Cahaya Abadi.
  • Sekitar 10-15 menit kami berjalan dari basecamp, kami sudah tiba di pusat Cahaya Abadi Sebesi. Tahukah kalian cahaya itu ? Cahaya itu adalah kumpulan anak-anak Sebesi yang sedang belajar Al-Quran. . 130 anak terkumpul untuk belajar di sebuah mushola. 130 anak itu hanya diajarkan oleh 2 orang pengajar. Dan yang bikin hati kami tersentuh adalah ketika pengajar berkata bahwa biasanya mereka belajar dari mulai ba'da Maghrib hingga jam 22.30 malam hari. Yah, dengan segala keterbatasan yang mereka punyai, mereka dengan istiqomah belajar halaman demi halaman Al-Quran. Kini, Pulau Sebesi masih membutuhkan bantuan berupa Alat Bantu Ajar. Seperti Al-quran, Iqra dll.
  • jam 14.00 Kami ahkirnya meninggalkan pulau Sebesi. Kembali menuju halaman rumah kami masing-masing.
Eksotika Cahaya Sebesi, Gunung Anak Krakatau dan seluruh kronco-kronconya memberikan ruang baru di hati saya. Ditambah kesempatan untuk berkenalan dengan teman-teman backpacker koprol, perjalanan kali ini menjadi lebih luar biasa berkesan. Dari sinilah saya menemukan bahwa di sudut lain bumi, masih ada yang bisa tersenyum dibalik keterbatasan yang mereka miliki dan lebih dari itu semua, dalam perjalanan kali ini saya belajar tentang arti berbagi dan bermanfaat bagi sesama. Terima Kasih Allah, terima kasih Backpacker Koprol.

Moshola Sebesi - TPA Al-Ikhlas

Kondisi Al-Quran di TPA Al-Ikhlas Pulau Sebesi

Cahaya Sebesi

Dermaga Canti





Continue Reading...

Minggu

CURHAT



bismillah..=)
sekitar 2 minggu yang lalu di dalam sebuah kajian disebutkan,
"orang-orang yang sering curhat adalah orang-orang yang sehat secara Rohani",
jadi, ijinin fitrah curhat yooo, biar disebut sehat juga...hehe

kemaren fitrah dapet sebuah kajian yang temanya cukup menarik, syukur...
hmmm, kalo boleh curhat tentang syukur, waduh, jangan ditanya dah..
fitrah termasuk orang yang sedikit bersyukur..=(
fitrah lebih suka ngeliat orang yang lebih hebat, lebih tangguh,lebih kuat dan sebagainya...
padahalll, udah jelas...
kalo fitrah dan kita semua ini punya kelebihan juga..
hanya saja, kita lebih menganggap klo diri kita itu lebih kecil dari orang lain..
pernah yah fitrah baca sebuah cerpen, disalah satu bagiannya ada tulisan kaya gini..
"Seandainya Allah memberikan waktu 1 menit untuk menjadi orang lain, dan melihat diri kita sendiri..maka, kamu akan melihat sosok pribadi yang luar biasa".
waduhhh, pas fitrah baca bagian itu..
fitrah jadi sadar, sebenernya fitrah itu hebat *sombonggggg nyaaa nih anakk...haha
dan fitrah juga yakin, temen-temen yang baca tulisan ini pun adalah orang-orang hebat..=)

ngga percaya ?
hmm... fitrah kasih sebuah contoh yang sederhana..
biasanya orang hebat itu dianalogikan dengan seorang pemenang, betul ?
nah temen-temen sekarang bisa baca tulisan fitrah ini kan ?
itu tandanya temen-temen udah berhasil menjadi salah seorang pemenang.
pasti masih ada yang nanya, pemenang dari mananya fit ?
okeh dah okeh, fitrah jelasin..
pernah fitrah ngeliat seorang anak yang sedang belajar membaca..
fitrah perhatiin dia, mulai dari dia belajar menghapal huruf, menyatukan satu huruf dengan huruf yang lain, dan hingga akhirnya ia bisa membaca..
gilaaa, perjuangannya mantep..
ga cuma sehari, tapi sampe 6 BULAN ia belajarr secara konsisten untuk hal tersebut !
akhirnya fitrah sadar, si anak tersebut telah menjadi seorang pemenang. SEKARANG DIA UDAH BISA BACA...
mungkin masih ada yang bilang, "ahhh, itu mah biasa.. semua orang juga bisa baca"..
eitsss,kata siapa ?
coba temen-temen main ke pinggir jalan..
masih banyak loh yang belum bisa baca..=)
sepele kan ?
tapi kita lupa arti syukurnya sendiri..
*eh naha jadi fitrah yang mamatahan ?
haha biarin lah yah..=D
hehe

jadi temen-temen, seteleah fitrah evaluasi, ternyata syukur itu penting.
di islam di jelasin,
“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.s. Ibrahim: 7)
bukan di islam aja, diseluruh agama pun diajarkan ttg arti syukur.
di setiap kitab suci yang mereka yakini, ada hal yang berkaitan ttg syukur.*baca buku the magic.

jadi, intinya..
klo mau dapet yang lebih, syukurin aja dulu apa yang kita miliki..
insya Allah, tanpa kita sadari..
Allah akan melebihkan nikmat yang telah kita miliki.
barakallah.^^

alhamdulillah akhirnya bisa curhat juga..=D
*yesss, akhirnya termasuk orang yang sehat Rohani..hihi
semoga bermanfaat yoo curhatannya..=)oh iya terakhir,
Allah, Sang Pencipta adalah pendengar yang baik dan pemberi solusi yang gokil. hehe.^^
Continue Reading...

Pepatah Kuno


Jalanan begitu lenggang.
Terlihat dari tadi pagi, angin begitu asik bermain-main.
Bahkan embun pun masih tampak hadir.
Seakan-akan pohon tidak mau kalah tertinggal, lebatnya mereka membuat matahari seperti terlihat malu untuk menunjukkan jati diri.

Tapi.... Itu semua dulu.
kini semua telah berubah.
jalanan tidak lagi lenggang,
kuda-kuda bermesin mulai memenuhinya.
emosi-emosi jiwa, mulai terlontar dari para penghuni kuda.
angin pun sudah tidak lagi bisa bermain bebas,
embun ?
sudah tinggal kenangan, mereka tidak pernah hadir lagi.
Pohon-pohon lebat yang dulu terlihat perkasa pun, kini tampak begitu lusuh
dan perlahan tapi pasti, matahari berani menunjukkan keperkasaannya.

Yah...
kusadari, akulah yang terlalu acuh,
membiarkan angin, embun, dan pohon-pohon menjadi korban.
akulah yang terlalu jahat.
merenggut kebhagiaan-kebahagiaan mereka dulu.

kepasrahan mereka, tangisan mereka..
ahhh....
semua membuat ku tak perdaya melihatnya.
kini akhirnya aku paham akan pepatah kuno,
bahwa mengobati, itu jauuhhh lebih sulit daripada mencegah.
Continue Reading...

Jumat

Buktikan Kepedulianmu!

 
"Al Jazeera melaporkan ada 2 versi jumlah korban meninggal. Dari pihak Kementrian Kesehatan Mesir menyebutkan sedikitnya 149 meninggal dan 1000 orang luka. Sementara dari pihak pro-Mursi mengatakan lebih dari 2000 orang meninggal dan 10.000 orang luka." - (Islammedia.com)

Setidaknya itu adalah sekilas tulisan yang saya bca ketika membuka salah satu media yang sedang meliput info terkini dari mesir, hal tersebut membuat saya merinding, sekaligus ingin tahu info-info terkini apa yang sedang terjadi di dunia ini. Tentu, semua infonya saya dapatkan dengan mudah, karena banyak sekali media yang membahas tentang mesir, bahkan akan sangat aneh jika ada media yang sama sekali tidak membahas tentang mesir. Mereka menyuguhkan data terkini, hingga foto-foto yang tengah terjadi di mesir. Inalillahi wa inalillahi rojiun, Syuhada bertebaran. Membaca dan melihat itu semua, membuat bulu kuduk saya berdiri tegap laksana prajurit yang sedang berbaris.
Dari semua hal yang saya lihat, ada hal yang mengganjal dan membuat saya gerah, "Hei kemana Pemimpin kami ? Presiden kami ?" Kenapa yang saya lihat dari media hanya ucapan "prihatin" ?. Yah, mungkin saya masihlah awam tentang ribuan masalah yang di hadapi oleh presiden, tapi menurut saya, siapapun yang melihat aksi kejam di mesir, bisa berfikir bahwa itu bukan lagi tentang "Prihatin" tapi tentang Hak Asasi Manusia yang dilanggar.

Pagi ini, jauh dari berita di mesir, saya mendapat berita, bahwa ada yang membutuhkan darah, 3 orang anak penderita kanker untuk di rumah sakit Hasan Sadikin. "Hey, kawan, cara main, yah ini cara main Allah, sinyal-sinyal Allah berlaku detik ini?" itu yang terlintas dalam benak saya tadi pagi. Ketika beberapa jam lalu saya masih berfikir, saya yang hanya rakyat biasa mungkin hanya bisa membantu lewat doa kepada saudaraku di mesir. Tapi ternyata tidak. Saya bisa melakukan hal yang lain. Allah menginginkan saya melakukan hal-hal yang bisa saya lakukan di sekitar saya. Mungkin hanya doa yang bisa saya berikan untuk saudara di mesir, tapi saya bisa melakukan sebuah aksi untuk negeri saya, Indonesia.

Donor darah menjadi pilihan saya pagi ini, walaupun dengan saya donor, saya akan terlambat untuk sampai kantor, tapi tidak masalah, karena bagi saya yang pernah bergabung dengan organisasi kemanusiaan, nyawa adalah utama, tidak perlu fikir panjang ketika jauh disana ada orang yang sedang bertarung dengan detik. Setibanya di Layanan permintaan darah, saya melihat beberapa orang dengan wajah cemas sedang antri menunggu darah pesanan mereka tiba.

Saya coba bertanya kepada ibu resepsionisnya, "bu saya mau donor untuk anak-anak penderita kanker di Rumah Sakit Hasan Sadikin."
"Atas nama siapa ?" ibu itu menjawab dengan ramah.
"aduh saya lupa, hmm Emang belum ada yang terdaftar atas nama 3 orang itu yah bu ?, klo belum nanti saya tanyakan dulu"
"Banyak yang terdaftar kang, untuk rumah Sakit Hasan sadikin aja ada lebih dari ratusan labu yang membutuhkan. coba tanyakan terlebih dahulu atas nama siapa dan jenis darah yang didonorkan apa ? untuk trombositkah atau apa ?"
"Gleg" suara saya menelan ludah begitu jelas terdengar, Inalillahi, banyak sekali yang membutuhkan darah.
"Iya bu saya tanyakan terlebih dahulu".

Subhanallah, ternyata dibalik perang yang terjadi di Mesir, ada juga orang-orang yang berperang dengan waktu di negeri ini. Mereka menunggu kita, menunggu bukti dari kepedulian kita.

#Doaku Untuk Mesir, Aksiku untuk Indonesia.

#KeepPray #Keep Action.
Continue Reading...

Selasa

Dua Tamu Istimewa itu Muncul Dalam Kesyahduan Shubuh


Beberapa hari yang lalu saya beritikaf di sebuah masjid, tepatnya di Daarut Tauhid Bandung. Seperti biasa, jika di masjid Daarut Tauhid selalu ada kajian ilmu setiap jam 5 pagi. Dan subhanallah, tanpa ada pemberitahuan, tanpa iring-iringan kendaraan selayaknya seorang pejabat, tanpa ada sirine pemberitahuan, tanpa protokoler dua orang tamu istimewa itu muncul di kesyahduan shubuh, mengunjungi kajian ini. Beliau adalah Pak Ahmad Heryawan yang tak lain dan tak bukan adalah Gubernur Jawa Barat dan Walikota terpilih kota Bandung periode 2013 -2018, Pak Ridwal kamil atau yang akrab disapa kang Emil.
 
Entah saya mimpi apa semalam, tapi kini ada dua orang pejabat negeri duduk di hadapan saya ditambah seorang Ustadz kondang sekaligus pemimpin yayasan Daarut Tauhid Bandung, yaitu Kyai Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Saya simak kajian ini dengan seksama, subhanallah, kesederhanaan, keramahan, dan kebijaksanaan saya lihat dari mereka bertiga selama kajian pagi ini berlangsung. Rasa kagum saya memuncak ketika mereka sepakat bahwa ketiga orang yang sedang di hadapan para jamaah bukanlah 3 pemimpin, melainkan 3 orang ini adalah 3 pelayan.
Selesainya kajian, pikiran saya terbang melayang-layang, memikirkan betapa indahnya negeri yang saya injaki dipenuhi oleh pemimpin seperti mereka, ramah, sederhana, dan bijaksana. Seandainya di setiap daerah di negeri ini dipimpin oleh orang seperti mereka, seandainya di setiap kota-kota di negeri ini dipimpin oleh orang seperti mereka, seandainya di setiap kelurahan di negeri ini dipimpin oleh orang  seperti mereka, senadainya di setiap RW dan RT di negeri ini dipimpin oleh orang seperti mereka, seandainya di setiap rumah di negeri ini dipimpin oleh orang seperti mereka, dan seandainya pemimpin seperti mereka, pemimpin yang menyeimbangkan keeksisan diri mereka di berbagai media dengan masjid, mungkin negeri ini akan jauh lebih baik.
Saya dulu bisa jadi sama seperti kalian, orang yang enggan memikirkan dunia politik di negeri ini, masa bodoh dengan apa yang terjadi di jajaran pemerintahan negeri ini, lebih memilih golput dalam pemilu. Yah, bisa jadi saya sama seperti kalian, tapi paradigma itu berubah, ketika saya mulai memperhatikan negeri lain, palestina hingga yang terbaru adalah mesir.
Banyak saudara-saudara yang seiman dengan saya sedang berjuang mempertahankan hak mereka di seberang sana, dan bisa jadi yang terlintas di dalam pikiran mereka setiap detik adalah bagaimana caranya mereka bisa bertahan dan merasakan kembali hidup yang tentram. Setelah beberapa waktu saya memperhatikan apa yang terjadi di dunia, yah dunia bukan negeri saya saja, akhirnya sebuah kalimat yang terucap dari mulut saya, “Konyol jika saya masih berfikir masa bodo dengan apa yang terjadi di negeri ini”
Lah kenapa konyol ? Apa nyambungnya dengan pemerintahan negeri ?. Jelas konyol, ketika beribu-ribu orang saudara saya berjuang di seberang sana, sedangkan saya disini masih acuh dengan apa yang terjadi di negeri sendiri. Ketika saya berfikir, untuk golput dalam pemilu, itu sama saja dengan membiarkan hak saya berlalu begitu saja, membiarkan calon-calon penguasa bertindak seenaknya, dan bagaimana jikalau dia akhirnya terpilih menjadi seorang pemimpin negeri ? orang yang tidak bertanggung jawab dan serakah memimpin negeri ini ? Bisa jadi kita akan senasib seperti saudara-saudara kita dipalestina dan mesir. Mungkin masih ada yang berfikir, “yaelah, ga ngaruh juga kali satu suara golput”. Bukankah hal-hal besar itu di mulai dari hal-hal kecil ? bukankah peristiwa besar karena ada beberapa orang yang meremehkan hal-hal kecil ?
Saya tidak akan meminta anda untuk memilih satu kelompok tertentu, atau partai tertentu. Yang saya minta adalah pilihlah pemimpin yang amanah, yang sederhana, dan peduli. Pilhilah pemimpin itu, entah dia mau datang dari kelompok atau partai manapun, karena bagi saya, partai hanyalah media, kendaraan. Cari tahu kepribadian setiap calon pemimpin, cari tahu dari mana ia berasal, keluarga, pendidikan, dan lingkungannya. Cari tahu! jika semua ilmu telah kita kuasai, silahkan lakukan apa yang menurut kita harus kita lakukan.
Memilih atau tidak, itu sepenuhnya hak kita masing-masing, karena  diakhirat pun kita hanya bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan, bukan yang orang lain lakukan. Jadi saya tekankan sekali lagi, itu semua 100% hak kita masing-masing. Tapi saya ingatkan, jangan salahkan orang lain jika sesuatu yang buruk terjadi di negeri ini, kalau ternyata kita tidak pernah ikut andil untuk perbaikan di negeri ini.
Continue Reading...

Kamis

Sinyal-Sinyal Allah


Suatu hari, saya pernah mengikuti sebuah kajian berjudul Sinyal-sinyal Allah. Judul yang cukup menyedot perhatian saya dan beberapa audience lainnya. Pembawaan materi yang meledak-ledak membuat kami mengikuti dan menangkap dengan baik apa isi materi yang sang pemateri sampaikan.

Selesai acara, saya coba mengkaji ulang apa yang telah saya dapatkan barusan.
Ternyata tidak sedikit orang-orang dan termasuk saya mengharapkan sesuatu hal yang besar tiba-tiba terjadi dalam kehidupan. Yang terlilit hutang berharap hutangnya tiba-tiba ada yang melunasi, yang sedang menulis tiba-tiba tulisannya diterbitkan oleh penerbit nasional dan akhirnya best seller, atau yang sedang dalam "penantian" tiba-tiba sang bidadari / bidadara turun untuk menemani kehidupannya. Apakah semua itu mungkin terjadi dalam kehidupan ? jawabannya tentu bisa. "Kun fayakun". Tapi, semua harapan diatas itu akan sangat kecil kemungkinan terjadi jika kita tidak bisa menyadari hal-hal kecil, hal-hal yang selama ini kita anggap sepele dalam kehidupan.

ketika ada sebuah pertanyaan terlempar kedalam benak kita semua, apakah setiap detik yang terjadi dalam kehidupan ini kebetulan ?
apakah setiap yang terjadi di dalam kehidupan ini sia-sia ?
tentu tidak.
tapi, seberapa besar sih kita mengambil hikmah dari setiap kejadian ?
misal, seberapa besar kita "ngeh" terhadap sinyal-sinyal yang Allah sampaikan lewat kecelakaan yang kita alami ?
atau, seberapa besar kita "ngeh" terhadaap sinyal-sinyal yang Allah sampaikan lewat rezeki yang kita dapatkan ?

dan tentu, ketika semua yang sedang membaca tulisan ini pun bukan sebuah kebetulan atau sia-sia. Bisa jadi ada pesan yang ingin Allah sampaikan sehingga waktu 5 hingga 10 menit sahabat-sahabat semua disita hanya untuk membaca tulisan ini ?
yang jadi inti pertanyaan, sadarkah kita terhadap sinyal-sinyal yang Allah sampaikan saat ini?
lewat tulisan ini ?

barakallah.
semoga bermanfaat untuk ngebuat kita semua lebih "ngeh" sama sinyal-sinyal dari-Nya.
Aamiin.

"ketika hal-hal kecil itu bisa kita tangkap, kita syukuri, maka akan besar kemungkinan kitapun akan bisa menangkap hal-hal yang atau kebaikan yang lebih besar lagi. maka mulailah saat ini untuk menangkap sinyal-sinyal dari Allah, walaupun kecil sekalipun."
Continue Reading...

Rabu

Hidup Bagaikan Ular Tangga


Masih pada inget ga nih sama permainan yang satu ini, permainan yang cara mainnya dengan melemparkan dadu untuk melotre seberapa jauh pion-pion jagoan kita melangkah. Yang membuat permainan ini semakin unik dan rame adalah terdapatnya ular dan tangga di dalam permainan, jika pion kita berdiam diri di kotak yang ada tangganya, maka pion kita bisa naik hingga kotak di ujung tangga, tapi sebaliknya jika pion kita berada di kotak yang ada buntut ularnya, maka pion kita akan turun hingga kotak diujung ular. Biasanya permainan ini saya suka mainin di bulan ramadhan bersama permainan-permainan yang lainnya, catur, monopoli, dan karambol.

Hidup bagaikan Ular tangga. Terbesit dalam fikirin saya, ternyata hidup ini sangat begitu mirip dengan permainan legendaris tersebut. Apa aja sih miripnya ?
pertama, seringkali kita melempar Dadu kuat-kuat, berharap mendapatkan angka tinggi, atau ngga berharap mendapatkan angka yang yang kita targetkan agar pion kita maju hingga kotak yang ada tangganya. Tapiii, apa boleh buat, terkadang targetan kita meleset. Bukan saja mendapatkan angka dadu yang kecil, tapi kita suka mendapatkan angka dadu yang membuat si pion maju hingga "kotak si buntut Ular" alias kotak yang membuat pion kita turun. :)
nah begitu juga dengan hidup bukan ? seringkali kita berupaya, berusaha semaksimal mungkin, tapi hasil akhirnya, kadang sesuai harapan kita kadang tidak. hmm, apakah itu semua buruk ? yah buruk bagi kita, tapi tidak Bagi Tuhan.. Nah lohh.. ko bisa, berarti Tuhan ngga saya kita dong ? :'(
tenang bro, Tuhan bukannya ga sayang, tapi Tuhan itu punya sebuah sketsa yang telah ia siapkan buat kita, nah disinilah Hukum Tawakal berlaku, dimana kita hanya bisa berusaha (ikhtiar plus doa) sisanya, hasil akhirnya, yah cuma Tuhan kita yang tahu, serahin semuanya kepadaNya. :)

Kedua, Apa yang membuat permainan ini menjadi sangat seru ? Ular dan Tangga bukan ? Si Ular yang membuat pion turun, dan si Tangga yang membuat Pion Naik. Coba bayangkan, jika permainan ini tidak ada Ular dan Tangga, hanya kotak saja, begitu gampangnya bukan pion kita untuk mencapai garis finish ? :)
Nah bagitu juga dgn kehidupan kita, Naik turun, pasang surutnya sebuah masalah, sebenernya itu adalah hal-hal yang menjadi bumbu kehidupan kita, Bumbu yang membuat hidup ini lebih menarik untuk dijalani. Dan pernah ga terfikir dalam benak kita, bahwa Kebahagian maupun masalah yang hadir, itu adalah cara komunikasinya Tuhan kita kepada kita ? Subhanallah yah, its a beautifull.

Terakhir, coba perhatikan permainan ini, Setiap peserta punya kesempatan yang sama, dan yang pastinya, setiap peserta memulainya dari kotak Angka 1 dan berakhir di kotak angka 100, memulai dari kotak paling bawah dan berusaha untuk sampai di kotak paling tinggi. Sekali lagi, ini sama dengan kehidupan kita, kita bermula dari seorang bayi yang tidak mengerti apa-apa kemudian diajarkan berbicara, berjalan, dan semua pengetahuan di dunia oleh sang Ibu dan Ayah. Kita punya pilihan yang sama, untuk terus mencoba berusaha, atau menyerah di tengah jalan, terus berusaha untuk menggapai tangga-tangga atau menyerah ketika berada di kotak ular.

Satu hal yang saya pahami dari permainan tsb, "Untuk Mencapai Kotak Teratas, kita hanya perlu bertahan untuk terus berusaha, dan mengabaikan seberapa kalinya kita terjatuh oleh sang ular. Semua tinggal masalah waktu".

#Sumber Inspirasi - Kajian Pagi Kantor.
Continue Reading...

Followers

Follow The Author