Sabtu

PESONA RUMAH DUNIA (Jilid 1)

Share it Please

Sejatinya sebuah perjalanan selalu ada cerita,
selalu ada ilmu,
dan selalu ada teman yang akan membagikan canda tawanya.
Hingga kita tersadar, bahwa kita tidak pernah ada dalam kesendirian
Muhammad Fitrah – Bandung


Cerita ini berawal dari sebuah info di facebook, salah seorang rekan kerja saya dulu sekaligus pelanggan setia bisnis yang saya jalani menginfokkan bahwa ada sebuah kegiatan di serang, Banten. Beliau bernama Intan kuswoharti, atau yang biasa saya panggil Teh Intan.

Kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari di Rumah Dunia, Serang. Karena jiwa petualang saya sedang tinggi-tingginya pada saat itu (#asikk :P), jadi tanpa fikir panjang, saya memutuskan untuk ikut. Dan saat itu teh Intan mengatakan, “ Kalau mau ikut, cepetan daftar kang!! Soalnya cuma nerima 100 peserta! Jadi belum tentu bisa ikut kalau ternyata udah penuh quotanya”. Mendengar berita tersebut, membuat saya secepat kilat mengkontak nomor yang diberikan oleh teh Intan. Sebuah kebahagiaan ketika seseorang dari seberang telepon sana merespon sms pendaftaran yang saya kirim, beliau mengatakan. “Bisa ikut full acara kan ? Nama FB kaka apa ? nanti saya add terus nanti saya masukin ke obrolan di FB.” Yess, Respon Positif. :D :D :D

Saya mengetahui nama yang merespon pendaftaran saya ketika beliau sudah meng-add dan memasukkan saya kedalam sebuah obrolan berjudul “Rumah Budaya Nusantara”, beliau bernama Annisa Sofya Wardah. Hari-hari berlalu, tidak ada kabar tentang kegiatan. Entah nama saya sudah terdaftar atau belum, saya pun tidak tahu. Karena saya sedikit cemas, akhirnya saya kontak beliau untuk menanyakan kepastiannya. Beberapa saat kemudian, SMS balasan masuk ke hp saya, sms itu berbunyi,

“Maaf mas, quota sudah penuh.”

“Arggggghhhh, masa gagal gue berpetualang!!??” umpat saya dalam hati.

Karena tekad saya sudah bulat untuk melakukan sebuah petualangan, akhirnya otak saya berpacu seribu kali lebih cepat dari biasanya #lebay, saya berfikir bagaimana agar saya tetap berangkat ? Treneneng!! Sebuah ide muncul!! Saya ga boleh nyerah, saya harus gunakan jurus “2M”, yaitu MEMELAS dan MEMAKSA. Hahaha

Singkat cerita, akhirnya sayapun berhasil ikut, bukan karena jurus 2M saya ampuh..:P tapi karena ketika mendekati hari H banyak yang meng-cancel hadir. Yess, rezeki emang ga kemana. :D :D #JogedJoged

(Kalau tau acaranya serame kemarin, yakin dahh pada nyesel ga ikut. :p)

#Makasih teh Anis yang udah ngasih kesempatan sampai saya bisa ikut.

Kamis siang, tanggal 7 November 2013, dengan membusungkan dada dan langkah yang pasti, saya tinggalkan kota Bandung untuk sesaat. Saat itu, cilegon menjadi tujuan saya sebelum menginjakkan kaki di Rumah Dunia, Serang. Satu malam akan saya habiskan disana, untuk mengunjungi sahabat yang telah lama tak jumpa, untuk bernostalgia akan indahnya masa putih abu, dan berbagi cerita tentang kehidupan yang dijalani saat ini. Sahabat itu bernama Agus.
Keesokan paginya, setelah puas bernostalgia bersama agus, saya beranjak menuju tujuan utama perjalan saya, Rumah Dunia yang berada di desa Ciloang, Serang. Setibanya disana, kesan pertama kali ketika kaki saya memasuki desa ciloang adalah “Cozy, nyaman. Ini sebuah desa yang tenang, betah saya disini.”

Di lapangan depan Rumah Dunia sendiri sudah terlihat para peserta dan panitia hilir mudik. Ada pula para peserta seperti saya yang baru tiba, mereka memperlihatkan wajah yang antusias ketika melihat sebuah spanduk bergambarkan susunan acara. Yah wajar saja, karena di acara ini kami semua peserta akan bertemu dengan para “master”. Sebut saja seperti Kang Abik dan Kang Kholidil Asadil Alam atau yang lebih akrab dikenal dengan kang Azam KCB, belum lagi kita akan berdiskusi bersama kang Irfan hidayatullah, kemudian mendengarkan musikalisasi dari Mas Ari dan Mbak Reda, dan masih banyak lagi diskusi-diskusi bersama pakar-pakar lainnya.

Kegiatan dimulai. Sebuah pembukaan diawali dengan sambutan-sambutan dari pihak penyelenggara hingga menyuguhkan Drama dari teman-teman Rumah Dunia. Drama tersebut membuat kami terpesona, tak terkecuali saya. Saat itu, 2 orang yang menjadi sorotan saya, perempuan yang berperan sebagai emak dan seorang anak kecil yang menjadi penari dalam drama. Yah, perhatian saya teralihkan ke mereka karena acting mereka begitu mencolok dari yang lain, mereka terlihat sangat menghayati perannya. Saya menyimpulkan, mereka semua berbakat. #Great

Siang harinya, kami menghabiskan waktu untuk berdiskusi bersama kang Irfan Hidayutullah dan Mas Imran. Diskusi yang berbobot. Dari diskusi itu, satu hal yang paling tidak bisa saya lupakan, yaitu kesimpulan yang mereka katakan,
“ Ribuan kata dapat kita produksi dalam satu hari,
tapi sedikit orang yang meluangkan waktunyauntuk memaknai setiap kata yang diproduksi.”

Kata-kata itu menjadi sebuah tamparan bagi saya pribadi, banyak kata yang saya produksi, tapi sebanyak itupula saya tidak pernah mencoba memaknai kata-kata yang terlontar. Hingga akhirnya, banyak kata yang berujung pada sebuah kesia-siaan. #perenungan

Ilmu hari ini, kebahagiaan hari ini belum berakhir. Karena sore harinya, kami berdiskusi tentang peran sastra dan film islami bersama Kang Abik dan Kang Azam. Sebuah diskusi panjang yang mampu membuat mata peserta tidak berkedip. Yah, sebuah diskusi yang menarik, Sangking manariknya, diskusi yang seharusnya selesai hingga maghrib masih berlanjut hingga menjelang Isya. Dari diskusi inipun saya belajar dan saya menemukan makna yang kurang lebih seperti ini : kang Abik mengatakan,


“Bermimpilah, mulailah segalanya dari mimpi.
Karena Rosulullah pun mengajarkan demikan.
Penaklukkan kontsatinopel menjadi buktinya.
Yah, Rosulullah menjanjikan kemenangan yang belum ada pada saat itu.
Itu karena Rosulullah ingin sahabat-sahabatnya meyakini sebuah kekuatan yang melebihi apapun,
kekuatan yang mampu mewujudkan sebuah mimpi.
Kekuatan itu adalah... Kekuasaan Allah”

Selepas diskusi bersama kang Abik dan Kang Azam, panitia menyuguhkan sebuah acara pentas kebudayaan. Melihat ragam budaya Banten, membuat saya takjub luar biasa. dibalik berita miring tentang pemerintahan Banten, ternyata di sisi lain sedang ada yang belajar dan mengajarkan budaya Banten, dan itu bukan satu dua orang yang terlibat, tetapi hingga puluhan bahkan ratusan orang. #Salut

Malam semakin larut, pertunjukkan budaya telah usai, tapi entah kenapa sayang jika hari ini disudahi begitu saja. Masih banyak yang ingin kami perbincangkan dan bagikan. Rasa itu akhirnya membuat kami sebagian peserta sepakat untuk melanjutkan malam lebih lama lagi, untuk bermain dengan gelapnya malam kota Banten. ( kenangan malam pertama di Banten ditulis dalam catatan yang berbeda )


-Bersambung-


Followers

Follow The Author