![]() |
| Fotografer : Yori Tanaka |
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu,
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
-Sapardi Djoko Damono-
Pagi hari, saya menghabiskan dengan sebuah diskusi kecil di kamar tempat saya berteduh. Bersama 3 orang sahabat baru, Kang Fathan, Kang Asep, dan Kang Suhadi kami saling berbagi cerita, berbagi pengalaman, dan berbagi tawa. Yah, pagi yang begitu hangat sebelum kami semua peserta menjalani kegiatan Rumah Dunia hari ini.
Pukul 8.30 pagi kami memasuki sebuah aula untuk kembali menangkap ilmu-ilmu yang dilayangkan pemateri, dilayangkan sang master. Kali ini, Profesor Yus Rusyana dan Rohendi SPd yang terpilih sebagai pemateri di diskusi pertama. Kagum saya melihat kedua pemateri ini, wawasan mereka begitu luas, apalagi ketika saya memperhatikan Prof Yus membagikan ilmunya, semangat yang luar biasa dikeluarkan oleh lelaki yang telah berumur 75 tahun ini. Iri saya pada beliau, dengan umurnya yang sudah tua renta, beliau masih begitu bersemangat membagikan ilmunya, kami saja para peserta yang berkisar di umur 16-30 tahun belum tentu bisa seenergik beliau. Terima kasih Prof untuk segala ilmunya. J
Lanjut siang dan dan sore harinya, kami diajak berdiskusi bersama Mba Oka Rusmini dan para penerbit-penerbit buku. Siang itu, Mbak Oka Rusmini mengajarkan kami tentang sebuah perjuangan untuk melestarikan sebuah budaya melalui literasi, sebagaimana yang telah ia contohkan, memperjuangkan kebudayaan Bali melalui karya-karyanya. Lain pemateri lain cerita, ketika berdiskusi bersama para penerbit, kami dikasih wawasan tentang berbagai macam langkah untuk menerbitkan buku dan buku-buku seperti apa yang sedang laris dipasaran. Sepintas, terbayangkan buku-buku yang suatu saat nanti kami garap bisa bersanding dengan buku-buku best seller lainnya di seluruh toko-toko buku Indonesia.
Hari kedua terasa begitu cepat berlalu, matahari pun perlahan mulai meninggalkan kami, membiarkan bulan perlahan naik menggantikannya. Banyak ilmu yang telah saya dapat hari ini, banyak hal yang saya pelajari, dan ikatan kami sesama peserta pun semakin erat. Saat itu, waktu menunjukkan waktu Maghrib, kami dibiarkan beristirahat dan akan kembali berkumpul jam 7 malam selepas sholat isya. Ketika berkumpul kembali, saya melihat 2 pemateri telah siap di panggung Aula. Yang satu tengah memainkan gitar, yang satu asik bernyanyi. Saya coba membuka catatan rundown acara yang telah diberikan panitia, ternyata kali ini saya akan dipertontonkan musikalisasi puisi. Sebuah pertunjukkan baru bagi saya pribadi. Saat itu, dengan santun, pemateri memperkenalkan diri, beliau bernama Mas Ari dan Mbak Reda dan tak lama kemudian, mas Ari memetikkan gitarnya, disambut suara Mbak Reda. Ahhhh, suaranya begitu merdu, alunan gitarnya begitu mesra, ditambah suasana aula dengan lampu yang sengaja dimatikan dan hanya menyisakkan 3 buah sorot lampu yang mengarah kepada Mbak Reda dan Mas Ari, membuat saya benar-benar hanyut dalam musikalisasinya. Kekaguman saya semakin memuncak ketika beliau menyanyikan sebuah puisi berjudul Aku Ingin karya Sapardi Djoko, sebuah puisi yang sudah saya tahu betul liriknya. Tanpa sadar, sayapun ikut menyanyikannya dari bangku penonton.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu,
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Musikalisasi yang mereka lantukan benar-benar telah menghipnotis saya dan mungkin juga seluruh peserta yang hadir pada malam itu, karena tanpa sadar, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 malam yang artinya sudah lebih 30 menit dari rundown seharusnya. Acara musikalisasi puisi harus disudahi saat itu juga.
*****
Hari ketiga sekaligus hari terakhir petualangan saya di Banten segera dimulai, kali ini kami seluruh peserta akan berjalan menyisiri Banten hilir atau yang lebih dikenal dengan Banten lama, satu hari ini akan kami habiskan untuk lebih jauh mengenal sejarah Banten. Mas Halim HD yang terpilih untuk membeberkan segala ilmu sejarahnya. Dari diskusi ini, kami sepakat, Banten bukanlah hanya sebuah kota yang berada di pinggir kawasan industri, tapi Banten lebih dari itu. Banten memiliki sejarah dan kekayaan yang luar biasa, menjadi salah satu jalur perdagangan Internasional pada eranya dulu. Yah, itu dulu. Kini Semua itu tinggal sejarah. Merekalah yang paham dan mau mempelajari sejarah Banten yang akhirnya akan menyimpan kebanggaan itu. Saya masih ingat ketika Mas Halim mengeluarkan beberapa statement didalam diskusi ini. Kurang lebih seperti ini,
“Saya tidak ingin mengajak anda membicarakan masa lampau,
tapi saya ingin anda mengingat hal-hal kecil.
Karena dari hal kecil itulah kita bisa tahu seberapa pentingnya sebuah sejarah”
“Melacak bukan hanya pekerjaan yang dilakukan anjing polisi, tapi untuk menggali sebuah sejarah,
anda perlu melacak, lacaklah sejauh yang anda bisa”
“Seorang penulis begitu erat kaitannya dengan membaca,
bacalah yang bisa anda baca, bacalah buku dan kehidupan yang saat ini anda jalan,
karena itu akan menjadi sebuah budaya”
Selepas diskusi bersama mas Halim, kami menghabiskan waktu bersantap siang di Eco Village, menyantap sedapnya Bandeng lumpur, membahas buku antalogi puisi dan antologi cerpen yang baru saja diterbitkan, membahas tentang bambu, dan akhirnya kembali ke Rumah Dunia untuk persiapan penutupan sekaligus packing untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.
Jika saya berbicara tentang Banten, saya fikir ini sebuah kota yang luar biasa kaya. Kaya akan budayanya, kaya akan masyarakatnya yang begitu bersahabat. Perjalanan 3 hari yang saya rasa terlalu singkat untuk disudahi, yah jika bukan karena rutinitas dan janji yang sudah menanti di Bandung, mungkin saya ingin merasakan sedikit lebih lama kehangatan kota Banten. Merasakan kebersamaan bersama sahabat-sahabat yang baru saya kenal. Tapi inilah hakekatnya sebuah perjalanan, akan selalu ada perpisahan. Bukan berarti pergi karena tidak ingin bersama, tapi karena di luar sana masih banyak cerita dan ilmu yang harus dijumpai, hingga suatu saat ketika bertemu kembali, kita mempunyai ilmu dan pengalaman baru yang bisa di ceritakan. Sampai jumpa kembali Banten, Sampai jumpa kembali sahabat dan terima kasih Rumah Dunia yang bekerjasama dengan Direktorat Sejarah dan nilai budaya Direktorat jenderal kebudayaan kementerian pendidikan dan kebudayaan RI akan segala pesona yang telah kalian tularkan.
