Sabtu

Pernikahan Bukan Arena Balap

Nikah muda ? Yah sebuah hal yang memang pernah terbesit dalam impian saya. Bahkan hingga saat ini pun masih tersimpan rapi impian itu. :) Tapi suatu pertanyaan terlintas dalam hati,
buat apa saya nikah muda ?
Apa karena teman-teman sebaya lain sudah menikah sehingga menaikan emosi saya ?
Atau karena saya meyakini dengan nikah muda maka Allah akan lebih mudah memberikan rezekinya ?

Saya masih ingat sekitar awal tahun 2013 kemarin, dengan niat bercanda mengatakan kepada ibu tentang keinginan menikah, tapi apa yang terjadi, ibu malah nangis karena takut masa depan anaknya akan lebih berat. Dari obrolan yg cukup serius itu, akhirnya saya sadar, pernikahan bukanlah tentang usia dan bukan pula tentang kemapanan, buktinya banyak orang yg bisa bertahan bahkan sukses walaupun ia memulainya dari keterbatasan, yang  saya sadari adalah pernikahan merupakan sebuah kepantasan. Sudah pantaskah kita memimpin rumah tangga ? Sudah pantaskah kita memikul tanggung jawab penuh terhadap anak orang lain ? Dan yang luar biasanya, penilaian kepantasan itu bukanlah penilaian dari orang lain, tapi penilaian dari diri kita sendiri. Kita akan menilai sendiri sejauh mana kita pantas melangkahkan kaki menuju jenjang pernikahan.

Banyak orang yang terburu-buru menikah akhirnya lupa terhadap esensi pernikahan itu sendiri, yang tak lain adalah ibadah. Tapi ada pula yang terlalu santai akhirnya ia melupakan pernikahan. Saya fikir, kita harus mulai proporsional terhadap pernikahan, buatlah target di umur berapa kita akan menikah, dan hingga umur itu tiba, pantaskan diri, jika permikahan adalah salah satu sarana peribadahan kepadaNya, maka perkuat hakikat pernikahan dengan lebih mendekat kepadaNya. Jangan terburu-buru memutuskan karena melihat teman-teman sebaya sudah menikah, ingat, pernikahan itu bukan arena balap, siapa yang cepat maka dia yang menang. Bukan! Yakinlah, kita punya tempat, waktu dan masanya sendiri yang lebih indah yang telah Allah siapkan. :)

#curcol.. Hehehe
Continue Reading...

PESONA RUMAH DUNIA (Jilid 2)

Fotografer : Yori Tanaka

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
 dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu,
 Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
-Sapardi Djoko Damono-

Hari kedua telah dimulai, kusambut ia dalam rapalan doa subuh di sebuah masjid. Begitu tenang, begitu khusyuk. Angin subuh seakan-akan begitu bersahabat dengan tubuhku, entahlah mungkin karena angin disini tidak sedingin angin subuh di kampung halaman rumahku, Bandung.

Pagi hari, saya menghabiskan dengan sebuah diskusi kecil di kamar tempat saya berteduh. Bersama 3 orang sahabat baru, Kang Fathan, Kang Asep, dan Kang Suhadi kami saling berbagi cerita, berbagi pengalaman, dan berbagi tawa. Yah, pagi yang begitu hangat sebelum kami semua peserta menjalani kegiatan Rumah Dunia hari ini.

Pukul 8.30 pagi kami memasuki sebuah aula untuk kembali menangkap ilmu-ilmu yang dilayangkan pemateri, dilayangkan sang master. Kali ini, Profesor Yus Rusyana dan Rohendi SPd yang terpilih sebagai pemateri di diskusi pertama. Kagum saya melihat kedua pemateri ini, wawasan mereka begitu luas, apalagi ketika saya memperhatikan Prof Yus membagikan ilmunya, semangat yang luar biasa dikeluarkan oleh lelaki yang telah berumur 75 tahun ini. Iri saya pada beliau, dengan umurnya yang sudah tua renta, beliau masih begitu bersemangat membagikan ilmunya, kami saja para peserta yang berkisar di umur 16-30 tahun belum tentu bisa seenergik beliau. Terima kasih Prof untuk segala ilmunya. J

Lanjut siang dan dan sore harinya, kami diajak berdiskusi bersama Mba Oka Rusmini dan para penerbit-penerbit buku. Siang itu, Mbak Oka Rusmini mengajarkan kami tentang sebuah perjuangan untuk melestarikan sebuah budaya melalui literasi, sebagaimana yang telah ia contohkan, memperjuangkan kebudayaan Bali melalui karya-karyanya. Lain pemateri lain cerita, ketika berdiskusi bersama para penerbit, kami dikasih wawasan tentang berbagai macam langkah untuk menerbitkan buku dan buku-buku seperti apa yang sedang laris dipasaran. Sepintas, terbayangkan buku-buku yang suatu saat nanti kami garap bisa bersanding dengan buku-buku best seller lainnya di seluruh toko-toko buku Indonesia.

Hari kedua terasa begitu cepat berlalu, matahari pun perlahan mulai meninggalkan kami, membiarkan bulan perlahan naik menggantikannya. Banyak ilmu yang telah saya dapat hari ini, banyak hal yang saya pelajari, dan ikatan kami sesama peserta pun semakin erat. Saat itu, waktu menunjukkan waktu Maghrib, kami dibiarkan beristirahat dan akan kembali berkumpul jam 7 malam selepas sholat isya. Ketika berkumpul kembali, saya melihat 2 pemateri telah siap di panggung Aula. Yang satu tengah memainkan gitar, yang satu asik bernyanyi. Saya coba membuka catatan rundown acara yang telah diberikan panitia, ternyata kali ini saya akan dipertontonkan musikalisasi puisi. Sebuah pertunjukkan baru bagi saya pribadi. Saat itu, dengan santun, pemateri memperkenalkan diri, beliau bernama Mas Ari dan Mbak Reda dan tak lama kemudian, mas Ari memetikkan gitarnya, disambut suara Mbak Reda. Ahhhh, suaranya begitu merdu, alunan gitarnya begitu mesra, ditambah suasana aula dengan lampu yang sengaja dimatikan dan hanya menyisakkan 3 buah sorot lampu yang mengarah kepada Mbak Reda dan Mas Ari, membuat saya benar-benar hanyut dalam musikalisasinya. Kekaguman saya semakin memuncak ketika beliau menyanyikan sebuah puisi berjudul Aku Ingin karya Sapardi Djoko, sebuah puisi yang sudah saya tahu betul liriknya. Tanpa sadar, sayapun ikut menyanyikannya dari bangku penonton.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu, 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Musikalisasi yang mereka lantukan benar-benar telah menghipnotis saya dan mungkin juga seluruh peserta yang hadir pada malam itu, karena tanpa sadar, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 malam yang artinya sudah lebih 30 menit dari rundown seharusnya. Acara musikalisasi puisi harus disudahi saat itu juga.

*****

Hari ketiga sekaligus hari terakhir petualangan saya di Banten segera dimulai, kali ini kami seluruh peserta akan berjalan menyisiri Banten hilir atau yang lebih dikenal dengan Banten lama, satu hari ini akan kami habiskan untuk lebih jauh mengenal sejarah Banten. Mas Halim HD yang terpilih untuk membeberkan segala ilmu sejarahnya. Dari diskusi ini, kami sepakat, Banten bukanlah hanya sebuah kota yang berada di pinggir kawasan industri, tapi Banten lebih dari itu. Banten memiliki sejarah dan kekayaan yang luar biasa, menjadi salah satu jalur perdagangan Internasional pada eranya dulu. Yah, itu dulu. Kini Semua itu tinggal sejarah. Merekalah yang paham dan mau mempelajari sejarah Banten yang akhirnya akan menyimpan kebanggaan itu. Saya masih ingat ketika Mas Halim mengeluarkan beberapa statement didalam diskusi ini. Kurang lebih seperti ini,


“Saya tidak ingin mengajak anda membicarakan masa lampau,
tapi saya ingin anda mengingat hal-hal kecil.
Karena dari hal kecil itulah kita bisa tahu seberapa pentingnya sebuah sejarah”

“Melacak bukan hanya pekerjaan yang dilakukan anjing polisi, tapi untuk menggali sebuah sejarah,
anda perlu melacak, lacaklah sejauh yang anda bisa”

“Seorang penulis begitu erat kaitannya dengan membaca,
bacalah yang bisa anda baca, bacalah buku dan kehidupan yang saat ini anda jalan,
karena itu akan menjadi sebuah budaya”

Selepas diskusi bersama mas Halim, kami menghabiskan waktu bersantap siang di Eco Village, menyantap sedapnya Bandeng lumpur, membahas buku antalogi puisi dan antologi cerpen yang baru saja diterbitkan, membahas tentang bambu, dan akhirnya kembali ke Rumah Dunia untuk persiapan penutupan sekaligus packing untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.

Jika saya berbicara tentang Banten, saya fikir ini sebuah kota yang luar biasa kaya. Kaya akan budayanya, kaya akan masyarakatnya yang begitu bersahabat. Perjalanan 3 hari yang saya rasa terlalu singkat untuk disudahi, yah jika bukan karena rutinitas dan janji yang sudah menanti di Bandung, mungkin saya ingin merasakan sedikit lebih lama kehangatan kota Banten. Merasakan kebersamaan bersama sahabat-sahabat yang baru saya kenal. Tapi inilah hakekatnya sebuah perjalanan, akan selalu ada perpisahan. Bukan berarti pergi karena tidak ingin bersama, tapi karena di luar sana masih banyak cerita dan ilmu yang harus dijumpai, hingga suatu saat ketika bertemu kembali, kita mempunyai ilmu dan pengalaman baru yang bisa di ceritakan. Sampai jumpa kembali Banten, Sampai jumpa kembali sahabat dan terima kasih  Rumah Dunia yang bekerjasama dengan Direktorat Sejarah dan nilai budaya Direktorat jenderal kebudayaan kementerian pendidikan dan kebudayaan RI akan segala pesona yang telah kalian tularkan.

Continue Reading...

PESONA RUMAH DUNIA (Jilid 1)


Sejatinya sebuah perjalanan selalu ada cerita,
selalu ada ilmu,
dan selalu ada teman yang akan membagikan canda tawanya.
Hingga kita tersadar, bahwa kita tidak pernah ada dalam kesendirian
Muhammad Fitrah – Bandung


Cerita ini berawal dari sebuah info di facebook, salah seorang rekan kerja saya dulu sekaligus pelanggan setia bisnis yang saya jalani menginfokkan bahwa ada sebuah kegiatan di serang, Banten. Beliau bernama Intan kuswoharti, atau yang biasa saya panggil Teh Intan.

Kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari di Rumah Dunia, Serang. Karena jiwa petualang saya sedang tinggi-tingginya pada saat itu (#asikk :P), jadi tanpa fikir panjang, saya memutuskan untuk ikut. Dan saat itu teh Intan mengatakan, “ Kalau mau ikut, cepetan daftar kang!! Soalnya cuma nerima 100 peserta! Jadi belum tentu bisa ikut kalau ternyata udah penuh quotanya”. Mendengar berita tersebut, membuat saya secepat kilat mengkontak nomor yang diberikan oleh teh Intan. Sebuah kebahagiaan ketika seseorang dari seberang telepon sana merespon sms pendaftaran yang saya kirim, beliau mengatakan. “Bisa ikut full acara kan ? Nama FB kaka apa ? nanti saya add terus nanti saya masukin ke obrolan di FB.” Yess, Respon Positif. :D :D :D

Saya mengetahui nama yang merespon pendaftaran saya ketika beliau sudah meng-add dan memasukkan saya kedalam sebuah obrolan berjudul “Rumah Budaya Nusantara”, beliau bernama Annisa Sofya Wardah. Hari-hari berlalu, tidak ada kabar tentang kegiatan. Entah nama saya sudah terdaftar atau belum, saya pun tidak tahu. Karena saya sedikit cemas, akhirnya saya kontak beliau untuk menanyakan kepastiannya. Beberapa saat kemudian, SMS balasan masuk ke hp saya, sms itu berbunyi,

“Maaf mas, quota sudah penuh.”

“Arggggghhhh, masa gagal gue berpetualang!!??” umpat saya dalam hati.

Karena tekad saya sudah bulat untuk melakukan sebuah petualangan, akhirnya otak saya berpacu seribu kali lebih cepat dari biasanya #lebay, saya berfikir bagaimana agar saya tetap berangkat ? Treneneng!! Sebuah ide muncul!! Saya ga boleh nyerah, saya harus gunakan jurus “2M”, yaitu MEMELAS dan MEMAKSA. Hahaha

Singkat cerita, akhirnya sayapun berhasil ikut, bukan karena jurus 2M saya ampuh..:P tapi karena ketika mendekati hari H banyak yang meng-cancel hadir. Yess, rezeki emang ga kemana. :D :D #JogedJoged

(Kalau tau acaranya serame kemarin, yakin dahh pada nyesel ga ikut. :p)

#Makasih teh Anis yang udah ngasih kesempatan sampai saya bisa ikut.

Kamis siang, tanggal 7 November 2013, dengan membusungkan dada dan langkah yang pasti, saya tinggalkan kota Bandung untuk sesaat. Saat itu, cilegon menjadi tujuan saya sebelum menginjakkan kaki di Rumah Dunia, Serang. Satu malam akan saya habiskan disana, untuk mengunjungi sahabat yang telah lama tak jumpa, untuk bernostalgia akan indahnya masa putih abu, dan berbagi cerita tentang kehidupan yang dijalani saat ini. Sahabat itu bernama Agus.
Keesokan paginya, setelah puas bernostalgia bersama agus, saya beranjak menuju tujuan utama perjalan saya, Rumah Dunia yang berada di desa Ciloang, Serang. Setibanya disana, kesan pertama kali ketika kaki saya memasuki desa ciloang adalah “Cozy, nyaman. Ini sebuah desa yang tenang, betah saya disini.”

Di lapangan depan Rumah Dunia sendiri sudah terlihat para peserta dan panitia hilir mudik. Ada pula para peserta seperti saya yang baru tiba, mereka memperlihatkan wajah yang antusias ketika melihat sebuah spanduk bergambarkan susunan acara. Yah wajar saja, karena di acara ini kami semua peserta akan bertemu dengan para “master”. Sebut saja seperti Kang Abik dan Kang Kholidil Asadil Alam atau yang lebih akrab dikenal dengan kang Azam KCB, belum lagi kita akan berdiskusi bersama kang Irfan hidayatullah, kemudian mendengarkan musikalisasi dari Mas Ari dan Mbak Reda, dan masih banyak lagi diskusi-diskusi bersama pakar-pakar lainnya.

Kegiatan dimulai. Sebuah pembukaan diawali dengan sambutan-sambutan dari pihak penyelenggara hingga menyuguhkan Drama dari teman-teman Rumah Dunia. Drama tersebut membuat kami terpesona, tak terkecuali saya. Saat itu, 2 orang yang menjadi sorotan saya, perempuan yang berperan sebagai emak dan seorang anak kecil yang menjadi penari dalam drama. Yah, perhatian saya teralihkan ke mereka karena acting mereka begitu mencolok dari yang lain, mereka terlihat sangat menghayati perannya. Saya menyimpulkan, mereka semua berbakat. #Great

Siang harinya, kami menghabiskan waktu untuk berdiskusi bersama kang Irfan Hidayutullah dan Mas Imran. Diskusi yang berbobot. Dari diskusi itu, satu hal yang paling tidak bisa saya lupakan, yaitu kesimpulan yang mereka katakan,
“ Ribuan kata dapat kita produksi dalam satu hari,
tapi sedikit orang yang meluangkan waktunyauntuk memaknai setiap kata yang diproduksi.”

Kata-kata itu menjadi sebuah tamparan bagi saya pribadi, banyak kata yang saya produksi, tapi sebanyak itupula saya tidak pernah mencoba memaknai kata-kata yang terlontar. Hingga akhirnya, banyak kata yang berujung pada sebuah kesia-siaan. #perenungan

Ilmu hari ini, kebahagiaan hari ini belum berakhir. Karena sore harinya, kami berdiskusi tentang peran sastra dan film islami bersama Kang Abik dan Kang Azam. Sebuah diskusi panjang yang mampu membuat mata peserta tidak berkedip. Yah, sebuah diskusi yang menarik, Sangking manariknya, diskusi yang seharusnya selesai hingga maghrib masih berlanjut hingga menjelang Isya. Dari diskusi inipun saya belajar dan saya menemukan makna yang kurang lebih seperti ini : kang Abik mengatakan,


“Bermimpilah, mulailah segalanya dari mimpi.
Karena Rosulullah pun mengajarkan demikan.
Penaklukkan kontsatinopel menjadi buktinya.
Yah, Rosulullah menjanjikan kemenangan yang belum ada pada saat itu.
Itu karena Rosulullah ingin sahabat-sahabatnya meyakini sebuah kekuatan yang melebihi apapun,
kekuatan yang mampu mewujudkan sebuah mimpi.
Kekuatan itu adalah... Kekuasaan Allah”

Selepas diskusi bersama kang Abik dan Kang Azam, panitia menyuguhkan sebuah acara pentas kebudayaan. Melihat ragam budaya Banten, membuat saya takjub luar biasa. dibalik berita miring tentang pemerintahan Banten, ternyata di sisi lain sedang ada yang belajar dan mengajarkan budaya Banten, dan itu bukan satu dua orang yang terlibat, tetapi hingga puluhan bahkan ratusan orang. #Salut

Malam semakin larut, pertunjukkan budaya telah usai, tapi entah kenapa sayang jika hari ini disudahi begitu saja. Masih banyak yang ingin kami perbincangkan dan bagikan. Rasa itu akhirnya membuat kami sebagian peserta sepakat untuk melanjutkan malam lebih lama lagi, untuk bermain dengan gelapnya malam kota Banten. ( kenangan malam pertama di Banten ditulis dalam catatan yang berbeda )


-Bersambung-


Continue Reading...

Followers

Follow The Author